Wow! Biaya Acara Kampus Unilak di Hotel Grand Elite Tembus Rp 390 Juta, Beasiswa Tersedot Rp 2,1 Juta per Mahasiswa, 88 Orang Kena Serang Diare
Kegiatan Peningkatan Mutu Akademik (PMA) yang diselenggarakan Universitas Lancang Kuning (Unilak) di Hotel Grand Elite, Pekanbaru berujung pada kejadian luar biasa yang dialami sebanyak 88 mahasiswa. Foto: Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Kegiatan Peningkatan Mutu Akademik (PMA) yang diselenggarakan Universitas Lancang Kuning (Unilak) di Hotel Grand Elite, Pekanbaru berujung pada kejadian luar biasa yang dialami sebanyak 88 mahasiswa. Para mahasiswa menderita muntah, sakit perut dan diare secara massal usai mengikuti acara tersebut.
Pelaksanaan PMA tersebut cukup menimbulkan tanda tanya, terutama menyangkut besarnya biaya yang harus dikeluarkan dan efektivitas pelaksanaannya.
Diketahui, biaya pelaksanaan kegiatan bersumber dari dana beasiswa berprestasi dialokasikan oleh Pemprov Riau untuk mahasiswa Unilak.
Berdasarkan penelusuran SabangMerauke News, Pemprov Riau melalui Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) mengucurkan dana beasiswa untuk sebanyak 184 mahasiswa dengan total anggaran mencapai Rp 1.655.998.400. Beasiswa diberikan kepada mahasiswa berprestasi angkatan tahun 2023.
Dari dana tersebut, sebesar Rp 390.098.400 dialokasikan untuk pelaksanaan PMA yang diikuti sebanyak 184 mahasiswa penerima beasiswa berprestasi. Tiap mahasiswa dikenakan biaya per orang sebesar sebesar Rp 2.120.100.
Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari sejak 7 Januari hingga 9 Januari 2026 lalu. Namun, mahasiswa tidak diinapkan di kamar hotel. Setiap mahasiswa yang hadir menerima uang transportasi sebesar Rp 100 ribu per hari.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unilak Dr. Hardi mengaku kegiatan PMA sudah dilaksanakan secara rutin sejak tahun 2018 lalu. Menurutnya, Pemprov Riau memberikan bantuan anggaran untuk dua komponen yaitu Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) dan Peningkatan Mutu Akademik.
"Untuk peningkatan mutu akademik, maka anak anak (mahasiswa) itu dilatih soft skill-nya," kata Hardi saat dikonfirmasi pada Selasa (13/1/2026).
Hardi beralasan, pelaksanaan kegiatan di hotel dilakukan agar kegiatan tersebut berjalan transparan dan akuntabel.
"Agar transparan dan akuntabel semuanya, maka kita laksanakan di hotel. Agar semua kegiatan itu terdokumentasi, Biro Kesra datang, semuanya datang, juga ada pematerinya yang mempunyai sertifikasi," ujarnya.
Disinggung tentang relatif mahalnya biaya PMA yang mencapai Rp 2.120.000 per orang, Hardi meminta agar hal itu ditanyakan ke mahasiswa. Ia beralasan kalau para mahasiswa juga mendapat uang transportasi Rp 100 ribu per hari selama kegiatan berlangsung.
"Coba tanya ke mahasiswa, apa saja yang mereka dapat. Mereka setiap harinya dikasih uang transportasi kan," kata Hardi.
Lantas mengapa kegiatan PMA tidak diselenggarakan di dalam kampus agar lebih hemat, karena toh mahasiswa tidak diinapkan di hotel?
Hardi beralasan, pihaknya tak ingin kegiatan tersebut kelak dipersoalkan.
"Iya betul penghematan, tapi nanti jadi persoalan. Seolah-olah nanti memainkan harga. Kalau di hotel kan ada harganya, kami khawatir itu karena pernah dituding seperti itu," tambahnya.
Ia menjelaskan, laporan pertanggungjawaban pelaksanaan PMA dilaporkan secara tertulis ke Biro Kesra Pemprov Riau.
Seorang mahasiswa Unilak penerima beasiswa mengakui dirinya mendapat uang transportasi sebesar Rp 100 ribu per harinya. Selain itu, mereka juga mendapatkan sebuah tas yang dipasang logo sponsor BUMD Pemprov Riau.
Tidak tertutup kemungkinan ada perusahaan lain yang menjadi sponsor kegiatan tersebut.
Penyebab Muntah-muntah Belum Diketahui
Sebelumnya diwartakan, sebanyak 88 orang mahasiswa Universitas Lancang Kuning (Unilak) mendadak mengalami mual-mual hingga muntah massal. Para mahasiswa juga menderita diare usai mengikuti kegiatan Peningkatan Mutu Akademik yang diselenggarakan Unilak di Hotel Grand Elite, Pekanbaru.
Mereka merupakan mahasiswa Unilak angkatan tahun 2023 penerima beasiswa prestasi dari Pemerintah Provinsi Riau. Total ada sebanyak 184 mahasiswa yang menerima beasiswa, namun sebanyak 88 orang menderita sakit perut usai kegiatan tersebut.
Kejadian ini berlangsung pada Jumat siang (9/1/2026) atau hari terakhir kegiatan yang berlangsung sejak 7 Januari 2026 lalu.
Kabag Kemahasiswaan Unilak, Fitri Juliani S.Kom MM, tak menampik ada sebanyak 88 mahasiswa Unilak melaporkan mendadak mengeluh sakit pada kegiatan tersebut. Ia mengatakan sedang memantau penyebab sakit yang menimpa para peserta. Namun ia mengaku belum mendapat kabar apakah ada mahasiswa yang harus dirawat di Rumah Sakit.
"Iya, tapi masih di pantau juga apa penyebab sakitnya mereka. Bapak tau dari mana? Kalau yang dirawat saya belum dapat kabar," Fitri Juliani saat dikonfirmasi SabangMerauke News, Minggu (11/1/2026).
Laporan awal mengenai keluhan sakit yang dialami para mahasiswa muncul pada Jumat (9/1/2026) siang. Gejala yang dialami peserta bervariasi, mulai dari sakit perut, diare, hingga muntah-muntah.
Data laporan yang diterima panitia kegiatan, hingga Sabtu (10/1/2026) siang, sebanyak 88 mahasiswa terdampak. Angka tersebut menunjukkan hampir separuh dari total peserta kegiatan mengalami gangguan kesehatan mendadak.
Rinciannya, sebanyak 28 orang mengalami diare, sakit perut 41 orang dan muntah-muntah ada 19 orang.
Sejumlah mahasiswa mengungkapkan kondisi parah yang mereka alami, bahkan beberapa di antara mereka mengaku takut melaporkan gejala sakit pada awalnya. Bahkan, berdasarkan pengakuan yang disampaikan salah seorang mahasiswa, dirinya sampai 20 kali harus pergi ke toilet.
Sang mahasiswa mengira hanya dirinya yang mengira mengalami sakit perut. Ternyata, rekan-rekannya yang lain juga bernasib sama.
Respon Manajemen Hotel Grand Elite
Sementara itu, manajemen Hotel Grand Elite mengonfirmasi telah menerima informasi adanya keluhan kesehatan yang dialami oleh sebagian peserta PMA kampus Unilak.
"Menindaklanjuti hal tersebut, manajemen telah melakukan koordinasi dan pertemuan langsung dengan pihak Universitas Lancang Kuning untuk menyampaikan klarifikasi serta langkah-langkah penanganan yang dilakukan, kata Henni, perwakilan manajemen Hotel Grand Elite.
Henni mengaku saat ini manajemen sedang melakukan penelusuran internal secara menyeluruh sesuai dengan standar operasional prosedur yang berlaku, termasuk pengecekan operasional dan pengambilan langkah preventif. Hingga saat ini belum terdapat kesimpulan resmi terkait penyebab keluhan tersebut.
"Manajemen berkomitmen mengedepankan keselamatan dan kenyamanan tamu, serta akan menyampaikan informasi lanjutan setelah seluruh proses penelusuran selesai," jelas Henni. (R-01/Adri)

