Gegap Gempita Peringatan HUT Kepulauan Meranti, Tokoh Perantau Mengaku Tak Pernah Diundang
Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Kepulauan Meranti yang jatuh setiap 19 Desember tidak hanya menjadi milik mereka yang berada di kampung halaman. Foto : Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS, Selatpanjang - Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Kepulauan Meranti yang jatuh setiap 19 Desember tidak hanya menjadi milik mereka yang berada di kampung halaman. Di luar batas geografis kabupaten, gema hari jadi itu tetap terasa—hidup di ingatan, rindu, dan kebersamaan warga Kepulauan Meranti yang berada di perantauan.
Seperti yang dirasakan oleh warga Kepulauan Meranti yang kini menetap di Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau. Meski terpisah oleh laut dan jarak dari Selatpanjang, semangat merayakan hari jadi daerah tetap menyala. Kerinduan akan kampung halaman itulah yang menyatukan mereka dalam satu perkumpulan, yakni Orang Selatpanjang Pekanbaru (OSP).
Melalui OSP, warga Kepulauan Meranti di Pekanbaru menggelar peringatan Hari Jadi Kabupaten Kepulauan Meranti ke-17. Kegiatan tersebut berlangsung khidmat dan penuh kehangatan di Ballroom New Hollywood Hotel, Jumat malam (19/12/2025).
Malam itu, suasana kebersamaan begitu terasa. Tawa, sapa, dan obrolan khas kampung halaman mengalir di antara para perantau. Sejenak, Pekanbaru terasa seperti Selatpanjang. Tidak ada sekat jarak, yang ada hanya rasa memiliki dan kebanggaan sebagai anak pulau.
Peringatan hari jadi ini tidak sekadar seremoni. Lebih dari itu, ia menjadi ruang temu bagi warga Kepulauan Meranti di perantauan untuk mempererat tali silaturahmi yang mungkin renggang oleh kesibukan dan waktu. Dalam suasana kekeluargaan, kerinduan akan tanah kelahiran seolah terobati.
Ketua Panitia Hari Jadi Kabupaten Kepulauan Meranti ke-17 di Pekanbaru, Letkol POM Hendra Suharta, mengatakan kegiatan tersebut memang dirancang sebagai ajang silaturahmi bagi warga Meranti yang berada di Pekanbaru dan sekitarnya.
“Kegiatan ini sengaja kami laksanakan dalam rangka memperingati hari jadi kabupaten bagi warga Meranti yang ada di Pekanbaru dan sekitarnya, sekaligus sebagai ajang mempererat silaturahmi,” ujarnya.
Pria yang menjabat sebagai Komandan Satuan Polisi Militer (Dansatpom) Lanud Roesmin Nurjadin (LRN) itu menambahkan, kegiatan ini juga menjadi wadah bagi warga yang diliputi rindu, namun belum memiliki kesempatan untuk pulang dan merayakan hari jadi kabupaten di kampung halaman.
“Acara ini kami buat untuk memfasilitasi warga Kepulauan Meranti yang tidak bisa pulang ke kampung. Setidaknya, mereka tetap bisa merayakan hari jadi kabupaten di Pekanbaru dan saling bersilaturahmi sesama perantau,” tuturnya.
Di tengah gemerlap ballroom hotel, peringatan HUT ke-17 Kabupaten Kepulauan Meranti itu menjadi bukti bahwa identitas dan kecintaan terhadap daerah tidak pernah lekang oleh jarak. Bagi warga Kepulauan Meranti di perantauan, kampung halaman bukan sekadar tempat di peta—ia hidup dalam ingatan, rasa rindu, dan kebersamaan yang terus dirawat, di mana pun mereka berada.
Namun, di tengah gegap gempita perayaan Hari Jadi Kabupaten Kepulauan Meranti, terselip suara lirih yang nyaris tak terdengar. Di balik kemeriahan, ada rasa yang belum sepenuhnya terjawab—rasa ingin diakui dan dihargai dari mereka yang mencintai daerah, meski berada jauh dari kampung halaman.
Mereka adalah para tokoh dan warga Kepulauan Meranti yang kini menetap di luar daerah. Meski tidak lagi berdomisili di tanah kelahiran, kecintaan terhadap Kepulauan Meranti tak pernah surut. Hari jadi kabupaten tetap mereka rayakan, namun ada harapan sederhana yang belum terpenuhi yakni kehadiran dan apresiasi langsung dari pemerintah daerah.
Harapan itu disampaikan oleh salah seorang warga Kepulauan Meranti yang kini bermastautin di Pekanbaru, M. Edy Afrizal. Ia mengungkapkan kegelisahan yang selama ini dirasakan dirinya bersama sejumlah tokoh Meranti di perantauan.
Menurut Edy, setiap tahun peringatan hari jadi kabupaten digelar, dirinya dan tokoh-tokoh lainnya tidak pernah menerima undangan resmi dari pemerintah daerah. Padahal, perayaan hari jadi seharusnya menjadi milik seluruh warga Kepulauan Meranti, tanpa terkecuali.
“Harusnya ketika hari jadi kabupaten ini, yang menikmatinya adalah seluruh warga, bukan hanya segelintir orang. Apalagi kami yang berada jauh dari kampung halaman, tentunya kami juga ingin mendapatkan apresiasi dari pemerintah daerah, meskipun hanya berupa secarik undangan,” ujar Edy.
Ia menegaskan, persoalan undangan bukanlah soal formalitas semata. Bagi dirinya, undangan adalah simbol pengakuan dan keterlibatan moral dalam perjalanan daerah yang pernah dibesarkan bersama.
“Apalah arti sehelai undangan. Ini bukan lagi soal perjuangan, tapi bagaimana mengisi pembangunan, menyumbangkan pemikiran agar daerah kita bisa lebih maju,” lanjutnya.
Kepala BPBD Provinsi Riau itu juga menanggapi anggapan bahwa undangan tokoh-tokoh setiap tahun telah digilir oleh panitia. Menurutnya, klaim tersebut tidak sesuai dengan kenyataan yang ia alami.
“Setiap peringatan hari jadi kabupaten, tidak ada undangan yang masuk. Kalau katanya digilir, buktinya kenapa orang-orang itu saja yang datang,” tukasnya.
Meski demikian, Edy menegaskan bahwa jarak tidak pernah memutus kepedulian. Bersama warga Kepulauan Meranti yang bertugas dan menetap di Pekanbaru, ia mengaku tetap berkontribusi memberikan ide, gagasan, dan pemikiran demi kemajuan daerah.
“Meskipun kami tidak berada di tempat, kami tetap memikirkan kampung halaman. Kami menyumbangkan ide dan pemikiran agar Meranti bisa bersaing dengan daerah lain. Apalagi saya sudah lebih dari 10 tahun bertugas di sana,” tuturnya.
Sebagai bentuk kecintaan, Edy dan warga Meranti di perantauan tetap konsisten memperingati hari jadi kabupaten, meskipun tanpa dukungan resmi dari pemerintah daerah.
“Tanda kami masih ingat, kami tidak pernah absen memperingati hari jadi ini, meskipun tidak ada support dari pemerintah,” pungkasnya.
Di tengah semarak perayaan, suara lirih itu menjadi pengingat bahwa membangun daerah tidak hanya soal panggung dan seremoni, tetapi juga tentang merangkul semua anak daerah di mana pun mereka berada, agar tetap merasa menjadi bagian dari rumah yang sama. (R-01)

