Tiga Wajah Baru Direksi BUMD PT Bumi Meranti: Mampukah Mengubah Beban Masa Lalu Menjadi Mesin Ekonomi Daerah?
Tiga sosok baru komposisi direksi BUMD PT Bumi Meranti. Foto : Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS, Selatpanjang - Panitia Seleksi (Pansel) Calon Direksi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Bumi Meranti (Perseroda) Kabupaten Kepulauan Meranti resmi mengumumkan hasil Uji Kelayakan dan Kepatutan seleksi calon direksi.
Pengumuman tersebut tertuang dalam Pengumuman Nomor: 14/Pansel-bm/2025 tentang Hasil Uji Kelayakan dan Kepatutan Seleksi Calon Direksi PT Bumi Meranti (Perseroda) Kabupaten Kepulauan Meranti.
Berdasarkan hasil pelaksanaan uji kelayakan dan kepatutan yang telah dilaksanakan, panitia seleksi menetapkan tiga peserta yang dinyatakan lulus sesuai dengan posisi jabatan yang dilamar. Untuk posisi Direktur Utama, peserta yang dinyatakan lulus adalah Bonny Nofriza, S.H., M.H. dengan perolehan nilai 72,8.
Sementara itu, posisi Direktur Administrasi dan Keuangan dinyatakan lulus oleh Dafiq Agustri, S.E. dengan nilai 63,5, dan posisi Direktur Bisnis diisi oleh Fitriadi Mirtha, S.E. dengan nilai 70,8.
Panitia seleksi menyampaikan bahwa peserta yang dinyatakan lulus uji kelayakan dan kepatutan berhak melanjutkan ke tahapan seleksi berikutnya, yakni wawancara akhir. Tahapan tersebut dijadwalkan akan dilaksanakan pada Kamis, 18 Desember 2025, bertempat di Ruang Rapat Bupati Kepulauan Meranti.
Dalam pengumuman tersebut juga ditegaskan bahwa keputusan panitia seleksi bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat.
Seleksi ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti untuk mendapatkan jajaran direksi yang profesional, kompeten, dan mampu mendorong kinerja PT Bumi Meranti (Perseroda) sebagai BUMD daerah.
Komisaris BUMD PT Bumi Meranti yang juga merangkap Pelaksana Tugas (Plt) Direktur, Ifwandi, membenarkan bahwa tiga nama telah terpilih untuk mengisi jajaran direksi perusahaan daerah tersebut.
Harapan pun ikut disematkan. Ifwandi berharap, direksi terpilih mampu membangkitkan kembali roda bisnis BUMD agar tidak sekadar berjalan, tetapi benar-benar menghasilkan dividen bagi daerah.
“Proses seleksi calon direksi BUMD PT Bumi Meranti berjalan murni, transparan, dan tanpa intervensi pihak mana pun. Ketiga yang terpilih sepenuhnya ditentukan oleh kemampuan masing-masing peserta berdasarkan hasil tahapan seleksi. Kami berharap mereka bisa membangun kembali BUMD ini ke arah yang lebih baik agar mampu menghasilkan dividen untuk pembangunan daerah,” ujar Ifwandi.
Namun, di balik harapan itu, tersimpan pekerjaan rumah yang berat. Ifwandi, yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kepulauan Meranti, secara terbuka mengungkapkan bahwa pemerintah daerah tidak lagi memberikan penyertaan modal kepada BUMD tersebut. Alasannya jelas : kepengurusan sebelumnya belum mampu memberikan keuntungan, bahkan gagal membalikkan modal yang telah digelontorkan.
Pertanggungjawaban keuangan memang diterima secara umum, tetapi catatan merah tetap membekas. Mulai dari penggunaan biaya operasional yang belum sepenuhnya jelas, hingga persoalan serius berupa kasus sapi mati tanpa berita acara.
Program penggemukan sapi yang digadang-gadang menjadi motor bisnis BUMD kini justru menjadi sorotan tajam. Pemerintah daerah telah mengucurkan penyertaan modal sebesar Rp 5 miliar sejak 2022 untuk membeli 150 ekor sapi Peranakan Ongol. Sapi-sapi itu dipelihara di kandang penggemukan yang dibangun di Jalan SMA 3 Dorak. Namun setelah tiga tahun berjalan, keuntungan tak kunjung terlihat.
Komisaris sebelumnya, Drs. Irmansyah, memilih diksi yang lebih lunak. Ia menyebut usaha tersebut bukan gagal, melainkan belum menguntungkan. Namun angka-angka di atas meja rapat RUPS-LB berbicara lebih jujur.
Dari dana Rp 5 miliar itu, sebanyak 150 ekor sapi dibeli dengan harga Rp 12,25 juta per ekor, menghabiskan Rp 1,837 miliar. Sebuah kandang permanen senilai Rp 1,1 miliar turut dibangun, ditambah sejumlah aset pendukung seperti sepeda motor dan mesin pencacah rumput.
Perjalanan bisnis sapi ternyata jauh dari mulus. Sebanyak 106 ekor sapi sempat terjual dengan harga rata-rata Rp 16 juta per ekor, menghasilkan pemasukan Rp 1,696 miliar. Namun dari angka tersebut, masih terdapat piutang Rp 400 juta yang belum dibayarkan pembeli. Ditambah uang tunai sekitar Rp 200 juta di kas, total pemasukan kasar hanya mencapai sekitar Rp 3,6 miliar.
Sisanya? Irmansyah mengakui, 24 ekor sapi dititipkan di mitra usaha, sementara 20 ekor lainnya mati tanpa keterangan jelas, bahkan tanpa berita acara.
Perhitungan berikutnya justru semakin memperjelas jurang kerugian. Dari 150 ekor sapi, hanya 49 ekor yang benar-benar terjual dengan harga Rp 16,5 juta per ekor, menghasilkan Rp 808,5 juta. Sebanyak 95 ekor sapi dimitrakan ke peternak lokal dengan sistem bagi hasil 50:50. Jika seluruh sapi itu dijual dengan harga yang sama, nilai kotor bisa mencapai Rp 1,567 miliar. Namun porsi BUMD hanya setengahnya, yakni Rp 783,75 juta.
Total pemasukan dari seluruh skema itu hanya sekitar Rp 1,559 miliar. Angka ini terpaut sangat jauh dari modal awal, meninggalkan defisit sekitar Rp 3,44 miliar, belum termasuk biaya pembangunan kandang, gaji pegawai, serta belanja operasional lainnya.
Ini bukan sekadar persoalan angka minus. Kisah ini menyingkap rapuhnya strategi usaha dan lemahnya akuntabilitas pengelolaan. Dana publik yang seharusnya berputar menjadi keuntungan justru membeku dalam kerugian. Dividen yang diharapkan untuk menambah Pendapatan Asli Daerah tak pernah hadir, sementara amanah pengelolaan seolah tak dijalankan sepenuh hati.
Di tengah kondisi keuangan yang tak lagi lapang, PT Bumi Meranti dipaksa berjalan dengan langkah yang lebih terukur. Sisa kas yang kini tinggal sedikit tak lagi dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai peluang awal untuk membangun kembali kepercayaan dan roda usaha BUMD tersebut.
Plt Direktur PT Bumi Meranti, Ifwandi, menegaskan bahwa pengelolaan sisa kas akan dilakukan secara kolektif oleh manajemen. Dana yang ada tidak akan dihamburkan, melainkan diarahkan pada sektor yang dinilai paling realistis dan menyentuh langsung kepentingan masyarakat, khususnya petani.
Menurut Ifwandi, manajemen telah mencanangkan penggunaan anggaran tersebut sebagai modal pembelian gabah petani, yang nantinya akan dikelola melalui kerja sama dengan Perum Bulog. Skema ini diharapkan dapat menciptakan siklus usaha yang lebih pasti: gabah dibeli dari petani lokal, diolah menjadi beras, lalu dipasarkan kembali.
“Adapun sisa kas pada BUMD PT Bumi Meranti telah disusun. Dana tersebut akan kita gunakan sebagai modal membeli gabah dari para petani yang bekerja sama dengan Bulog. Nantinya, setelah menjadi beras, akan dijual kembali,” ujar Ifwandi.
Langkah ini bukan hanya soal bisnis, tetapi juga upaya membangun kembali kepercayaan publik. Di tengah kekecewaan masa lalu, BUMD kini diarahkan untuk hadir sebagai mitra petani, memperpendek rantai distribusi, serta memberi kepastian pasar bagi hasil panen masyarakat.
Namun Ifwandi juga membuka ruang bagi inovasi. Ia menegaskan, kepengurusan baru PT Bumi Meranti tetap diberi keleluasaan untuk mengembangkan core business lain di luar sektor pangan. Hanya saja, pengembangan usaha baru tersebut diharapkan tidak sepenuhnya bergantung pada kas internal yang terbatas.
“Untuk manajemen baru yang akan mengembangkan core business lainnya, kami harapkan dapat melakukan kerja sama dengan pihak lain,” tukasnya.
Dengan strategi yang lebih hati-hati dan fokus pada sektor riil, PT Bumi Meranti kini berada di persimpangan penting. Apakah sisa kas yang minim ini mampu menjadi benih kebangkitan, atau sekadar menjadi catatan terakhir dari sebuah perjalanan panjang, semua akan ditentukan oleh konsistensi, transparansi, dan keberanian manajemen baru dalam mengelola amanah publik.
Kini, tongkat estafet berada di tangan direksi baru. Di hadapan mereka terbentang tantangan besar yakni memulihkan kepercayaan, membenahi tata kelola, dan membuktikan bahwa BUMD PT Bumi Meranti masih layak diperjuangkan—bukan sebagai beban, tetapi sebagai harapan bagi daerah.
Di balik angka-angka defisit dan catatan merah masa lalu, PT Bumi Meranti kini menaruh harapan pada wajah-wajah baru yang dipercaya mengemban amanah besar. Tiga sosok dengan latar belakang berbeda resmi mengisi jajaran direksi, membawa cerita, pengalaman, dan sudut pandang masing-masing untuk menakhodai BUMD kebanggaan daerah itu.
Bonny Nofriza, yang dipercaya menduduki kursi Direktur Utama, bukan figur asing di dunia profesional. Ia memiliki latar belakang sebagai lawyer atau kuasa hukum, sebuah bekal penting dalam memperkuat tata kelola, kepatuhan hukum, dan pengambilan keputusan strategis perusahaan. Tak hanya itu, Bonny juga pernah berkecimpung di sektor perbankan, memberinya pemahaman tentang manajemen risiko dan pengelolaan keuangan korporasi. Di luar dunia formal, ia dikenal sebagai pelaku usaha kreatif dengan mengelola sebuah kafe yang digandrungi kalangan anak muda, menunjukkan kemampuannya membaca pasar dan tren usaha kekinian.
Sementara itu, posisi Direktur Administrasi dan Keuangan diemban oleh Dafiq Agustri, S.E. Sosok ini dikenal sebagai pengusaha dengan fondasi akademik yang kuat. Dafiq merupakan ahli ekonomi dan akuntansi, bahkan pernah berbagi ilmu sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi. Perpaduan antara pengalaman usaha dan latar belakang akademis diharapkan mampu menghadirkan sistem pengelolaan keuangan yang lebih tertib, transparan, dan akuntabel—sebuah kebutuhan mendesak bagi BUMD yang tengah berbenah.
Adapun kursi Direktur Bisnis dipercayakan kepada Fitriadi Mirtha, seorang pengusaha lokal Kepulauan Meranti yang namanya cukup dikenal di kalangan pelaku UMKM. Ia merupakan pemilik Dikopi Coffee Shop, sekaligus figur yang aktif mendorong pengembangan usaha kecil dan menengah di daerah. Fitriadi kerap dikutip terkait perannya dalam mempromosikan kopi liberika khas Meranti, serta konsisten mendukung berbagai pelatihan dan pemberdayaan UMKM agar mampu naik kelas dan bersaing lebih luas.
Komposisi direksi dengan latar belakang hukum, keuangan, perbankan, akademisi, hingga pengusaha kreatif ini menjadi sinyal kuat arah baru PT Bumi Meranti. Harapannya, pengalaman yang beragam tersebut dapat saling melengkapi—membangun kembali kepercayaan, memperbaiki tata kelola, serta mengubah BUMD dari beban masa lalu menjadi mesin ekonomi daerah yang sehat dan produktif.
Kini, publik menanti pembuktian. Apakah kombinasi pengalaman dan semangat baru ini mampu menjawab tantangan lama dan mengantarkan PT Bumi Meranti menuju babak kebangkitan yang sesungguhnya.
Menelisik proses sebelumnya, Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Muzamil Baharudin, yang juga menjadi ketua panitia seleksi menegaskan bahwa proses seleksi calon direksi BUMD PT Bumi Meranti berjalan murni, transparan, dan tanpa intervensi pihak manapun.
Penegasan itu ia sampaikan saat memimpin langsung tahapan presentasi dan wawancara peserta di Ruang Rapat Dinas Kominfotik Meranti, Selasa (25/11/2025).
Sebagai Ketua Tim Seleksi, Muzamil memastikan bahwa hasil akhir sepenuhnya ditentukan oleh kemampuan masing-masing peserta.
"Saya dan bupati sudah bersepakat bahwa hasil seleksi ini benar-benar berdasarkan tahapan yang dilalui," ujarnya.
Ia meminta seluruh peserta mengikuti proses dengan serius dan menunjukkan kompetensi terbaik.
"Kerahkan semua kemampuan yang dimiliki, karena kami berharap direksi terpilih nanti dapat memperkuat BUMD dan ikut membangun daerah ini. Pengalaman sebelumnya menunjukkan masih banyak hal yang perlu dibenahi," tegasnya.
Muzamil menambahkan bahwa seluruh tahapan seleksi dirancang untuk menjaring figur profesional yang mampu membawa perubahan positif. Ia juga mendorong peserta yang belum berhasil untuk menjadikan proses ini sebagai pengalaman berharga. (R-04)

