Cegah Risiko Ambruk, Dua Infrastruktur Kritis Ditangani Darurat, PUPR Meranti Pastikan Pembangunan Baru Tahun Depan
Para pekerja dibawah pengawasan Dinas PUPR Kepulauan Meranti terlihat melakukan pekerjaan penanganan sementara terhadap Jembatan Sungai Gelora Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Di tengah kesibukan Kota Selatpanjang, Jembatan Sungai Gelora yang menuju Pelabuhan Tanjung Harapan kini menjadi pusat perhatian warga. Struktur yang tampak miring dan cekung sejak beberapa hari terakhir membuat masyarakat khawatir, terlebih jembatan ini merupakan salah satu akses penting menuju kawasan pelabuhan dan pusat perbelanjaan di Pasar Modern.
Pagi itu, lalu lintas di sekitar jembatan terlihat lebih hati-hati dari biasanya. Para pengendara memperlambat laju kendaraan, sebagian bahkan berhenti sejenak untuk memastikan kondisi jembatan aman sebelum melintas. Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan—kerusakan terlihat jelas dari permukaan jembatan yang mulai turun di sisi tengah.
Di balik keresahan warga, pemerintah daerah bergerak cepat. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kepulauan Meranti telah melakukan penanganan sementara untuk mengantisipasi risiko yang lebih besar. Langkah ini merupakan respons awal sambil menunggu tindakan perbaikan permanen.
Sebelumnya, beredar kabar di kalangan masyarakat bahwa jembatan bisa ambruk kapan saja jika tidak ditangani. Informasi itu menyebar cepat, membuat suasana semakin cemas, terutama bagi warga yang setiap hari bergantung pada akses tersebut untuk bekerja atau berdagang.
Kepala Dinas PUPR Kepulauan Meranti, Rahmat Kurnia, ST didampingi Sekretaris PUPR, Mariman menegaskan bahwa hingga kini jalur tersebut belum ditutup. Namun, ia meminta masyarakat untuk tetap waspada, khususnya dengan mengurangi kecepatan saat melintas dan menghindari membawa muatan berat yang dikhawatirkan dapat memperparah kondisi jembatan.
Menurut Rahmat, jembatan masih bisa dilalui, tetapi diperlukan kesadaran bersama agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ia mengingatkan bahwa beban berlebih dari kendaraan besar menjadi salah satu faktor yang dapat mempercepat kerusakan struktur.
Sebagai langkah pencegahan, pemerintah setempat juga telah memasang rambu-rambu peringatan di titik-titik strategis sekitar jembatan. Rambu ini berfungsi memberi informasi agar pengguna jalan memahami risiko dan menyesuaikan perilaku berkendara.
“Kita sudah memasang rambu sebagai tanda peringatan bagi pengendara. Tujuannya agar informasi mengenai kondisi jembatan tersampaikan dengan jelas sehingga semua bisa meningkatkan kewaspadaan dan meminimalkan potensi kecelakaan," ujar Rahmat.
Kepala Dinas PUPR ini juga menyebutkan jembatan itu bukanlah merupakan satu-satunya jalan utama, melainkan masih ada sejumlah jalan alternatif lainnya yang masih bisa dilewati oleh para pengendara.
"Kita masih banyak alternatif lain,artinya bukan terlalu hal yang sifatnya menghambat betul lah untuk masyarakat dalam melakukan mobilisasi. Kita masih bisa ke Gelora lewat Jalan Nelayan, Jalan Tanjung Mayat. Kalau yang sepeda motor masih bisa melewati Jalan Manggis. Jadi ada beberapa alternatif jalan yang bisa dilewati selain dari jembatan tersebut," jelasnya.
Ia juga mengimbau, terhadap kendaraan berat seperti mobil APMS, gerobak pasir maupun Dum Truck Sampah agar memilih jalan lain untuk menghindari musibah yang tak diinginkan.
Pria yang akrab disapa Aang itu lebih jauh menjelaskan, di balik kesibukan Jalan Sungai Gelora yang menjadi akses utama menuju Pelabuhan Tanjung Harapan, tersimpan kisah tentang sebuah jembatan tua yang kini mulai menunjukkan kelemahannya. Jembatan itu berdiri sejak sebelum Kabupaten Kepulauan Meranti mekar dari Bengkalis — lebih dari 17 tahun lalu. Waktu yang panjang itu kini memperlihatkan jejak kelelahan struktur yang tak lagi sekuat dulu.
Di bawah teriknya matahari siang, tampak jelas bagian bawah jembatan yang mulai keropos. Besi-besi pengikatnya muncul ke permukaan, sebagian telah berkarat setelah bertahun-tahun terpapar air laut saat pasang tinggi.
Aang mengatakan bahwa penurunan kondisi jembatan bukan sekadar akibat usia tua. Ada faktor lain yang mempercepat kerusakan, yakni saat kendaraan operasional PLN yang membawa alat berat melintas untuk mengatasi persoalan listrik di Selatpanjang beberapa waktu lalu.
Menurut Aang, beban besar dari mobil tersebut memberikan tekanan signifikan pada badan jembatan. Dampaknya terlihat jelas, dimana permukaan jembatan turun, struktur melengkung, dan kemiringan mulai tampak. Hal ini tidak hanya membuat jembatan rawan, tetapi juga dapat membahayakan pengguna jalan jika tidak segera ditangani.
“Dalam pemeriksaan awal, kami menemukan dugaan bahwa selain keropos akibat usia, kerusakan juga dipicu oleh tekanan besar dari kendaraan yang membawa alat berat itu. Struktur jembatan mengalami penurunan hingga menciptakan kemiringan seperti yang terlihat sekarang," tuturnya.
Melihat kondisi tersebut, Dinas PUPR bergerak cepat melakukan langkah pencegahan awal agar jembatan tidak roboh. Selain memasang spanduk larangan bagi kendaraan bermuatan besar, mereka juga memperkuat struktur jembatan dengan penanganan sementara.
Aang menyebutkan bahwa pemasangan rambu peringatan saja dirasa belum cukup. Masyarakat masih banyak yang melintas tanpa memahami risiko yang mengintai. Karena itu, sesuai instruksi Bupati, dilakukan tindakan tambahan berupa pemasangan penahan dari kayu di bagian bawah jembatan.
“Penanganan sementara ini menggunakan kayu berupa papan dan balok tebal sebagai penahan dari bawah jembatan. Ini dilakukan sembari menunggu tersedianya anggaran untuk pembangunan jembatan baru. Dimana tahun 2026 mendatang kita akan usahakan pembangunannya pada triwulan pertama," jelasnya.
Meski sifatnya sementara, penahan kayu tersebut diharapkan dapat mencegah kerusakan semakin parah. Para petugas bekerja di bawah jembatan, menata kayu-kayu besar itu satu per satu, memastikan titik-titik yang paling lemah mendapat penguatan.
Warga yang melihat proses perbaikan berharap langkah darurat ini cukup kuat untuk menahan jembatan hingga ada pembangunan permanen. Bagi mereka, jembatan ini bukan hanya penghubung antar kawasan tetapi urat nadi bagi aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat sehari-hari.
Dengan segala keterbatasan, pemerintah daerah berusaha merawat jembatan ini agar tetap bisa digunakan. Namun satu hal pasti yakni jembatan tua itu kini sedang menunggu babak baru dalam perjalanannya — apakah akan segera direhabilitasi, atau kembali menjadi penopang lalu lintas dengan wajah yang lebih kuat.
Meski penanganan sementara sudah dilakukan, masyarakat berharap agar perbaikan permanen dapat segera direalisasikan. Bagi mereka, jembatan ini bukan sekadar jalan penghubung, melainkan denyut nadi aktivitas ekonomi dan mobilitas harian di Selatpanjang.
Di tengah berbagai upaya menjaga infrastruktur kota tetap aman, perhatian masyarakat juga tertuju pada satu titik yang tak kalah mengkhawatirkan yakni box culvert di simpang Puskesmas Alahair. Lubang besar yang muncul tiba-tiba di badan jalan beberapa hari lalu sempat membuat lalu lintas tersendat dan menimbulkan kecemasan pengguna jalan.
Tidak ingin mengambil risiko, Dinas PUPR Kepulauan Meranti segera turun tangan setelah menerima laporan. Petugas bergerak cepat melakukan penanganan awal dengan menutup lubang tersebut menggunakan coran semen agar kendaraan bisa kembali melintas dan aktivitas warga tidak terganggu terlalu lama.
Namun kondisi box culvert itu ternyata lebih rapuh dari dugaan awal. Tidak lama setelah dilalui kendaraan, permukaan jalan kembali mengalami penurunan dan retakan. Bagian bawah struktur yang keropos akibat paparan air laut saat pasang tinggi membuat penanganan sementara itu belum mampu menahan beban lalu lintas.
Menyadari risiko yang bisa muncul kapan saja, Dinas PUPR tidak tinggal diam. Mereka segera berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk melakukan langkah pengamanan tambahan. Pembatas atau barrier akhirnya ditempatkan di area simpang tersebut untuk mencegah kendaraan melintas tepat di atas titik box culvert yang rusak.
Langkah itu diambil bukan hanya untuk melindungi kendaraan, tetapi juga keselamatan warga. Dengan adanya barrier, pengendara dapat diarahkan memilih jalur aman sehingga potensi kecelakaan dapat ditekan sebelum penanganan permanen dilakukan.
Kepala Dinas PUPR, Rahmat Kurnia, menegaskan bahwa kerusakan ini sudah masuk dalam perhatian serius pihaknya. Ia memahami simpang Puskesmas Alahair merupakan jalur vital yang digunakan masyarakat setiap hari, terlebih bagi warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan.
“Jalan ini akan kita upayakan diperbaiki secara permanen pada tahun depan agar aktivitas lalu lintas kembali lancar dan aman,” tegasnya.
Untuk saat ini, masyarakat diimbau tetap berhati-hati saat melintas di sekitar lokasi. Meski penanganan darurat telah dilakukan, kondisi box culvert yang menua dan tergerus air laut menjadi pengingat bahwa infrastruktur pulau memang membutuhkan perhatian lebih. (R-01)

