Penjelasan Psikolog Penyebab Orang Indonesia Tega Ambil Barang Korban Kecelakaan
Dugaan penjarahan ketika kecelakaan. Foto: Dok SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta - Sebuah video memperlihatkan aksi seorang pria yang diduga berusaha mengambil lampu dari kendaraan yang baru saja mengalami kecelakaan, viral di media sosial.
Video berdurasi 33 detik itu diunggah oleh pengguna akun Instagram @now**** pada Jumat (4/10/2025).
Dalam rekaman tersebut, tampak seorang pria mencoba mencuri komponen dari bus Berlian Baru yang mengalami kecelakaan parah. Namun alih-alih panik saat ditegur oleh perekam video, pria itu justru tersenyum lebar, seolah tindakannya bukanlah sesuatu yang salah.
Ia bahkan beralasan bahwa perbuatannya tidak masalah karena sopir bus tidak meninggal dalam kecelakaan tersebut. Sikap santai dan dalih pria tersebut menuai beragam komentar dari warganet.
Banyak yang menilai tindakannya mencerminkan minimnya empati terhadap korban, sekaligus memperburuk citra kepedulian sosial masyarakat saat menghadapi musibah.
“Miris banget lihatnya, manusia model begini nggak punya hati,” tulis seorang warganet.
“SDM kita minim empati. Sering orang kecelakaan cuma diliatin, bahkan malah diambilin barangnya,” tulis lainnya.
Lantas, mengapa ada orang yang tega mengambil barang milik korban kecelakaan?
Penjelasan psikologis di balik perilaku “jarah” korban kecelakaan Psikolog dan dosen Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Ratna Yunita Setiyani Subardjo, mengatakan fenomena masyarakat yang mengambil barang korban kecelakaan merupakan bentuk perilaku sosial yang memprihatinkan.
“Dari sudut pandang psikologi, perilaku menjarah atau mengambil barang korban kecelakaan bisa dijelaskan oleh beberapa faktor, yang membuat kita mengelus dada,” ujarnya, Rabu (29/10/2025).
Ratna menjelaskan setidaknya ada lima faktor utama yang memengaruhi perilaku tersebut:
1. Deindividuasi
Deindividuasi adalah kondisi ketika seseorang merasa anonim saat berada dalam kerumunan. Dalam situasi itu, kata Ratna, individu cenderung kehilangan rasa tanggung jawab pribadi, sehingga kontrol diri menurun dan perilaku antisosial meningkat.
2. Opportunisme
Beberapa orang mungkin memandang situasi kecelakaan sebagai kesempatan untuk memperoleh barang berharga dengan mudah.
"Mereka berpikir tak ada yang akan mengetahui atau menganggap korban tidak lagi membutuhkan barang-barang tersebut," kata Ratna.
3. Kurangnya empati Menurut
Ratna, pelaku tidak mampu memahami atau merasakan penderitaan korban, sehingga tidak muncul rasa bersalah atas tindakan yang dilakukan.
Mereka hanya fokus pada kepentingan diri sendiri, seperti keinginan memiliki barang tanpa mempertimbangkan kondisi orang lain yang sedang tertimpa musibah.
4. Pengaruh lingkungan
Faktor seperti kemiskinan, ketidakadilan sosial, atau lemahnya penegakan hukum dapat memicu perilaku menyimpang, termasuk menjarah.
5. Gangguan kepribadian antisosial
Dalam beberapa kasus, individu dengan kecenderungan psikopati tidak memiliki rasa peduli terhadap hak atau perasaan orang lain.
Ratna menambahkan, dalam konteks psikologi sosial, perilaku menjarah umumnya dipengaruhi oleh kombinasi dari faktor-faktor tersebut.
“Karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menghormati hak orang lain, serta menumbuhkan nilai empati dan solidaritas,” jelasnya. (R-05)

