Viral Video Lempar Kursi Protes Jalan Berlumpur karena Proyek Sumur Minyak PT Pertamina Hulu Rokan di Rohil
Kondisi jalan rusak di Desa Manggala Sakti, Kecamatan Tanah Putih, Kabupaten Rokan Hilir. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Rokan Hilir - Sebuah video yang memperlihatkan keributan antara warga dan pekerja di area pengeboran minyak milik PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) di Desa Manggala Sakti, Kecamatan Tanah Putih, Kabupaten Rokan Hilir, viral di media sosial.
Video tersebut memperlihatkan suasana tegang antara warga dan pihak desa dengan perusahaan, bahkan sampai ada aksi lempar kursi. Namun kini situasi telah berakhir damai.
Peristiwa itu terjadi pada Senin (20/10/2025) pagi sekitar pukul 10.00 WIB di wilayah Kepenghuluan Manggala Sakti, Dusun Manggala V.
Menurut keterangan Datuk Penghulu Manggala Sakti, Muslim, insiden bermula dari protes masyarakat terhadap kondisi jalan yang berlumpur akibat aktivitas kendaraan proyek di area pengeboran minyak.
Kondisi jalan yang licin mengakibatkan seorang anak sekolah terpeleset dan jatuh, sehingga warga mendatangi lokasi kerja dan meminta agar jalan segera diperbaiki.
"Jalan itu sudah lama berlumpur karena aktivitas kendaraan proyek. Anak sekolah jatuh, warga marah dan menuntut agar jalan segera disiram atau diratakan,” ujar Muslim kepada SabangMerauke News, Kamis (23/10/2025).
Muslim menjelaskan, dua perusahaan kontraktor yang beroperasi di wilayah itu, yakni PT Bohai Drilling Service Indonesia (BDSI) dan PT Great Wall Drilling Company (GWDC), sempat dipanggil untuk bermusyawarah bersama pihak PHR.
Kedua kontraktor tersebut diketahui merupakan mitra kerja PHR yang menangani kegiatan pengeboran di wilayah tersebut.
Kedua perusahaan disebut kooperatif dan bersedia menanggapi keluhan warga. Namun, perwakilan PHR yang menjadi penanggung jawab lapangan sempat tidak kunjung keluar menemui masyarakat.
"Biasanya setiap hari ada orang PHR di situ sebagai penanggung jawab. Tapi waktu kami panggil, tidak ada yang keluar. Akhirnya masyarakat masuk ke area kontainer, di situlah terjadi keributan kecil karena merasa tidak dihargai,” jelas Muslim.
Muslim menegaskan bahwa insiden tersebut bukan aksi anarkis, melainkan bentuk kekesalan warga akibat lambannya tanggapan perusahaan terhadap masalah jalan berlumpur.
"Enggak ada niat menyerang. Cuma kesal karena tidak dihargai. Masyarakat cuma ingin jalan diperbaiki, biar tidak ada korban lagi,” tambahnya.
Setelah dilakukan dialog dan mediasi, pihak penghulu dan perusahaan akhirnya mencapai kesepakatan damai.
Solusi bersama yang diambil adalah melakukan pembersihan jalan dengan cara digleder dan disiram agar lumpur tidak lagi menumpuk di atas aspal dan membahayakan pengguna jalan.
"Sekarang sudah selesai, sudah tidak ada masalah lagi. Kami sudah sepakat, jalan akan digleder dan disiram supaya bersih. Kami juga sudah saling memaafkan dengan pihak perusahaan,” tegas Muslim.
Situasi di lokasi saat ini telah kembali aman dan kondusif. Pemerintah kepenghuluan berharap agar pihak perusahaan lebih memperhatikan kondisi lingkungan di sekitar area kerja, sehingga tidak menimbulkan keresahan di kemudian hari. (R-02)

