Usai Kasus DBD Renggut 2 Nyawa Anak di Kepulauan Meranti, Kini 2 Balita Meninggal Dunia Terserang Diare
Ilustrasi balita meninggal dunia. Foto: Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS, Selatpanjang - Kabar duka kembali datang dari Kepulauan Meranti. Setelah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) merebak, bahkan merenggut nyawa dua anak berusia delapan dan dua tahun beberapa waktu lalu, kini ancaman serius penyakit diare pun datang menghantui masyarakat.
Di tengah cuaca yang tak menentu dan kondisi sanitasi yang belum sepenuhnya tertata, 2 balita malang, masing-masing berusia empat dan enam bulan, dilaporkan meninggal dunia akibat dehidrasi berat. Mereka tak sanggup bertahan setelah berhari-hari mengalami muntah dan buang air besar terus-menerus, meski sempat mendapat perawatan medis.
Kabar duka ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak, bahwa di balik geliat pembangunan dan aktivitas sehari-hari masyarakat, masih tersimpan ancaman nyata dari penyakit menular berbasis lingkungan.
Lonjakan kasus diare yang melanda Kabupaten Kepulauan Meranti dalam beberapa pekan terakhir membuat pemerintah daerah bergerak cepat. Melalui Dinas Kesehatan, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti mengeluarkan imbauan terbuka kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit yang memiliki gejala serupa dan sering dianggap sepele ini.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti, Ade Suhartian, membenarkan adanya peningkatan kasus tersebut. Ia menyebutkan bahwa lonjakan signifikan mulai terjadi sejak awal Oktober 2025.
“Sejak 1 hingga 18 Oktober 2025, tercatat 316 kasus diare di seluruh kecamatan. Kasus terbanyak berada di Kecamatan Rangsang Pesisir, tepatnya di Kedabu Rapat, mencapai 91 penderita, disusul Kecamatan Tebingtinggi (Selatpanjang) dengan 66 kasus. Sementara dua balita yang meninggal dunia berasal dari Kecamatan Tasik Putri Puyu dan Pulau Merbau,” ungkap Ade.
Data tersebut menambah panjang daftar penderita diare di Meranti sepanjang tahun ini. Secara kumulatif, sejak Januari hingga September 2025, Dinas Kesehatan telah mencatat 1.288 kasus diare. Angka ini menunjukkan bahwa penyakit tersebut bukan lagi persoalan ringan, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak yang rentan mengalami dehidrasi berat.
Menurut Ade, peningkatan kasus diare biasanya dipicu oleh pola hidup yang kurang sehat, terutama kebersihan air dan makanan. Kondisi cuaca yang tidak menentu, dengan hujan dan panas yang silih berganti, juga memperburuk penyebaran bakteri penyebab penyakit di lingkungan permukiman padat penduduk.
Lonjakan ini menjadi alarm bagi semua pihak—bahwa di balik rutinitas harian, ancaman penyakit menular masih mengintai, dan pencegahannya hanya bisa dilakukan dengan kesadaran kolektif untuk menjaga kebersihan diri serta lingkungan.
Sebagai upaya mencegah penyebaran penyakit diare yang tengah melonjak di Kabupaten Kepulauan Meranti, Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat agar lebih disiplin menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
Masyarakat diingatkan untuk selalu mencuci tangan pakai sabun sebelum makan dan setelah buang air besar, serta merebus air hingga mendidih sebelum diminum. Selain itu, warga juga diminta untuk menjaga kebersihan makanan dan lingkungan sekitar rumah, serta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan bila menunjukkan gejala diare seperti muntah atau buang air besar berulang disertai tanda dehidrasi.
Sebagai langkah konkret, Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti akan menggelar sosialisasi dan edukasi langsung ke sekolah-sekolah, posyandu, serta rumah ibadah. Langkah ini dilakukan agar masyarakat memahami pentingnya pencegahan dini dan penanganan cepat terhadap penyakit diare.
“Kami ingin masyarakat tidak panik, tapi tetap waspada. Edukasi adalah kunci. Kami akan gencarkan sosialisasi agar kasus tidak terus bertambah,” ujar Plt Kepala Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti, Ade Suhartian.
Pemerintah daerah berharap, dengan langkah cepat dan kesadaran masyarakat, penyebaran penyakit diare di Kepulauan Meranti dapat segera ditekan. Tidak ada lagi nyawa yang melayang sia-sia akibat penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan perilaku hidup bersih dan sehat. (R-01)

