Tragedi Kebakaran SMAN 1 Selatpanjang: Irwan Nasir Curiga Ada Unsur Kesengajaan Minta Polisi Selidiki Dugaan Kejanggalan
Terlihat pihak kepolisian Polres Kepulauan Meranti mendatangi lokasi kebakaran di SMAN 1 Tebingtinggi. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Di lantai dua gedung SMA Negeri 1 Tebingtinggi, Jalan Pembangunan II, Kelurahan Selatpanjang Kota, Kabupaten Kepulauan Meranti, kini hanya tersisa puing-puing hitam. Bau hangus masih mengendap di udara, seolah menolak pergi.
Menjelang senja di akhir September lalu, api datang tanpa ampun. Lidah-lidah merahnya menjilat satu per satu ruang kelas, membentuk lingkaran letter "U" yang mengepung gedung berusia tiga dekade lebih itu. Dalam hitungan jam, bangunan yang dulu berdiri kokoh, luluh lantak jadi arang.
Burung-burung walet yang biasa bertengger di atap, kini beterbangan panik di atas kobaran, menjadi saksi bisu bagaimana ruang-ruang penuh kenangan dilahap api. Bukan hanya bangunan yang hilang, tapi juga dokumen berharga milik siswa, termasuk ijazah tamatan tahun lalu yang belum sempat diambil dan semuanya jadi abu.
Gedung berusia 35 tahun di atas lahan 700 meter persegi itu, kini hanya menyisakan puing. Dari total 34 ruangan, diantaranya: kelas, laboratorium, multimedia, hingga gudang alat peraga—hampir separuhnya musnah. Bahkan atap mushola yang selama ini menjadi tempat bersujud, runtuh diterkam api. Kini hanya 12 ruangan tersisa.
Sekolah yang menjadi kebanggaan masyarakat Kepulauan Meranti ini menampung 787 siswa serta 89 guru dan tenaga administrasi. Semuanya kini terpukul, kehilangan rumah kedua yang selama ini bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang menempa mimpi.
Di tengah reruntuhan hitam itu, duka mendalam tidak hanya menyelimuti para pendidik. Kepala Sekolah, Poyadi, bahkan sempat tak sadarkan diri karena begitu terpukul menyaksikan sekolah yang ia pimpin kini tinggal arang. Beberapa guru yang hadir pun tak kuasa menahan air mata. Bagi mereka, gedung itu bukan sekadar bangunan, melainkan rumah pengabdian bagi generasi bangsa.
Keprihatinan juga datang dari para alumni. Salah satunya Drs. H. Irwan Nasir, tokoh masyarakat sekaligus Bupati Kepulauan Meranti dua periode. Ia menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas musibah ini. Namun, di balik rasa dukanya, Irwan tak sepenuhnya yakin bahwa api itu hanya dipicu karena dugaan korsleting listrik.
Irwan mencurigai ada kemungkinan lain. Menurutnya, pola kebakaran yang meluluhlantakkan SMAN 1 Tebingtinggi itu tampak janggal.
Lebih dari itu Irwan mencurigai bahwa kebakaran itu bisa saja disebabkan karena adanya sabotase dari pihak-pihak yang dicurigai dengan sengaja merusak barang milik pemerintah tersebut.
Untuk itu Irwan Nasir meminta dan mendesak kepada pihak terkait untuk lebih intensif melakukan penyelidikan, terhadap pola kebakaran yang sangat mencurigakan itu
“Saya selaku tokoh masyarakat Kepulauan Meranti dan juga menjadi alumni yang pernah mengenyam pendidikan di SMAN 1 itu meminta pihak kepolisian dalam hal ini Polres Kepulauan Meranti untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap kebakaran tersebut. Saya melihat pola apinya seperti diatur-atur. Karena itu saya meminta pihak terkait melakukan penyelidikan lebih intensif dan tuntas. Jangan sampai peristiwa ini hanya dianggap musibah biasa, sementara ada pihak yang sengaja merusak aset pemerintah,” tegasnya.
Bagi Irwan, tragedi ini bukan hanya kehilangan fisik, tetapi juga tamparan keras bagi dunia pendidikan di Kepulauan Meranti. Ia menekankan agar aparat serius menelusuri penyebab kebakaran, demi memberi kepastian kepada ratusan siswa, guru, dan masyarakat yang kini berduka.
Irwan Nasir, yang kini juga menjabat Ketua Kwartir Daerah Riau, tak bisa menyembunyikan rasa curiganya. Ia menilai, ada hal janggal dari pola api yang melahap SMAN 1 Tebingtinggi. Ia menjelaskan secara logika tidak mungkin sebuah bangunan yang berbeda-beda blok bisa terbakar secara serentak hanya dalam waktu singkat.
“Secara logika, tidak mungkin lima blok bangunan terbakar serentak hanya dalam waktu singkat. Ini jelas sangat aneh, bahkan seperti disengaja. Kami tidak ingin menuduh siapa pun, tapi ada kejanggalan yang patut dicurigai. Pola terbakarnya benar-benar tidak masuk akal,” kata Irwan, Kamis (2/10/2025).
Baginya, peristiwa ini bukan hanya sekadar musibah. Sebagai alumni yang pernah mengenyam pendidikan di sana, bahkan ikut membangun sekolah itu ketika menjabat sebagai bupati, Irwan mengaku sangat memahami seluk-beluk bangunan tersebut.
“Saya tahu persis kondisi sekolah ini. Kalau hanya korsleting, mustahil bisa menghanguskan banyak blok sekaligus dalam sekejap. Itu sebabnya saya mendesak agar penyelidikan dilakukan secara tuntas, supaya jelas apa sebenarnya penyebab kebakaran ini,” ujarnya penuh keprihatinan.
Sebagai seorang alumni, Irwan Nasir tidak tinggal diam. Ia mengajak seluruh rekan seangkatan maupun para alumni yang kini telah berhasil meniti karier, untuk bahu membahu membantu sekolah yang pernah menjadi rumah kedua mereka.
“Kita harus segera membentuk kepanitiaan open donasi. Tujuannya jelas, agar operasional sekolah bisa kembali berjalan normal sembari menunggu pembangunan ulang tahun depan,” seru Irwan penuh harap.
Ia menambahkan, koordinasi dengan pemerintah provinsi sudah dilakukan. “Saya sudah berkomunikasi dengan Pak Gubernur Riau, dan beliau sangat tanggap. Pak Wahid berjanji pembangunan kembali sekolah ini akan segera direalisasikan. Tapi sebelum itu, jangan sampai kegiatan belajar-mengajar lumpuh. Karena itu, open donasi ini penting, tapi harus terkoordinasi,” tegasnya.
Irwan berharap, Ketua Alumni bisa segera mengkonsolidasikan langkah ini agar bantuan yang terkumpul tidak liar, tetapi terarah demi kepentingan bersama.
“Sekolah ini sudah melahirkan banyak orang hebat. Kini saatnya kita, para alumni, membalas budi. Mari kita pastikan adik-adik kita tetap bisa belajar dengan layak meski sekolah ini baru dibangun kembali tahun depan,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, api sore itu terlihat sekitar pukul 17.00 WIB, asap tipis terlihat membubung dari lantai atas sebelah kanan gedung sekolah. Dalam hitungan menit, asap itu berubah menjadi jilatan api yang kian menggila, menyambar kayu dan plafon, lalu melahap habis lantai dua bangunan.
Hembusan angin membuat api tak terkendali. Seluruh lantai atas hangus, sementara beberapa ruang di lantai bawah berhasil diselamatkan. Namun pada akhirnya, yang tersisa hanya puing, abu, dan wajah-wajah murid serta guru yang masih sulit percaya bahwa tempat menimba ilmu itu kini tinggal kenangan.
Di balik kepulan asap dan suara kayu yang ambruk, suasana penuh panik bercampur pilu. Sejumlah guru tampak berusaha menyelamatkan berkas-berkas penting, sementara para siswa berlarian membawa barang seadanya. Namun upaya itu sia-sia. Komputer, alat peraga, hingga fasilitas laboratorium, semuanya tak kuasa melawan amukan si jago merah.
Kepala SMAN 1 Tebingtinggi, Poyadi, masih sulit menahan rasa terpukul. Ia mengatakan belum mengetahui pasti sumber api, meski informasi yang beredar kuat menyebut korsleting listrik sebagai pemicunya. “Api pertama kali muncul dari atas atap. Itu yang dilihat saksi,” ucapnya lirih.
Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Aldi Alfa Faroqi, melalui Kapolsek Tebingtinggi, Iptu Daniel Bakara, menjelaskan kronologi sore itu. Sekira pukul 16.45 WIB, sepuluh siswa tengah asyik bermain bola basket di halaman sekolah. Tiba-tiba, salah seorang di antaranya, Atta (17), melihat gumpalan asap mengepul dari lantai dua, tepatnya di ruang aula.
Rasa penasaran mendorong Atta dan kawan-kawan naik ke atas. Namun begitu pintu aula dibuka, api sudah berkobar dari plafon ruangan. Dengan alat seadanya, mereka mencoba memadamkan api, tetapi sia-sia. Api justru merambat cepat, melahap aula dan menyambar ke blok lain.
Penjaga sekolah, Dayat (38), yang melihat kepanikan itu segera berlari memanggil tim pemadam kebakaran. Tak lama berselang, mobil damkar datang. Warga, aparat, dan petugas pun berjibaku melawan api. Selama lebih dari tiga jam mereka bertarung tanpa henti, hingga akhirnya, tepat pukul 20.00 WIB, kobaran itu bisa ditaklukkan.
Namun, meski api berhasil padam, yang tertinggal hanyalah bau hangus yang menusuk, abu yang bertebaran, dan sebuah sekolah yang kini tinggal sejarah dalam kenangan mereka. (R-01)

