LPTQ Kepulauan Meranti Berganti Nahkoda, Semangat Baru untuk Harumkan Daerah dan Saat Cahaya Qur’an Menyala Kembali
Bupati Kepulauan Meranti, AKBP (Purn) H. Asmar saat menghadiri acara Serah Terima Jabatan (Sertijab) Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kabupaten Kepulauan Meranti. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Kabupaten Kepulauan Meranti, yang tahun ini harus rela berada di peringkat ke-10 pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Provinsi Riau di Bengkalis, kini bersiap menyalakan kembali bara tekad melalui penyegaran kepengurusan LPTQ.
Hal itu ditandai dengan ditandai dengan Serah Terima Jabatan (Sertijab) Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kabupaten Kepulauan Meranti di Ruang Rapat Melati, Kantor Bupati Meranti, Rabu (1/10/2025).
Agus Safri, sosok yang selama ini menahkodai LPTQ, resmi menyerahkan estafet kepemimpinan kepada H. Aljufri. Pergantian itu bukanlah tanda kegagalan, melainkan ikhtiar menghadirkan energi baru, pola pikir segar, serta manajemen yang lebih strategis demi mengangkat marwah Qur’ani Meranti.
Ketua LPTQ Kepulauan Meranti yang dijabat oleh Agus Safri waktu itu adalah sosok yang ditunjuk langsung oleh Bupati nonaktif Muhammad Adil. Namun, dalam masa kepemimpinannya, belum banyak capaian prestasi yang bisa dibanggakan. Seruan untuk pengunduran diri Agus Safri sebenarnya bukan hal baru—permintaan tersebut sudah digaungkan sejak beberapa tahun lalu, namun hingga kini belum ditindaklanjuti.
Bupati Kepulauan Meranti, AKBP (Purn) H. Asmar, hadir langsung menyaksikan momen bersejarah itu. Dengan suara tenang namun penuh penekanan, ia menyampaikan apresiasi kepada Agus Safri atas pengabdian yang telah diberikan, sekaligus menaruh harapan besar kepada Ketua LPTQ yang baru.
“Melalui LPTQ, kita dapat meningkatkan kesadaran dan pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Saya berharap LPTQ terus memperkuat pembinaan dan pelatihan tilawatil Qur’an, sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam kegiatan keagamaan,” ucap Asmar.
Baginya, LPTQ bukan sekadar lembaga, melainkan wadah untuk melahirkan generasi Qur’ani—anak-anak yang suaranya mampu menggema indah, membawa harum nama Kepulauan Meranti hingga ke panggung provinsi bahkan nasional.
Pagi itu, di tengah wajah-wajah yang penuh harapan, satu semangat yang sama mengalir yakni membumikan Al-Qur’an di tanah sagu, menjadikannya cahaya penuntun, dan sekaligus pemersatu masyarakat Meranti.
Acara sertijab turut dihadiri Asisten Administrasi Umum Setdakab, Muhammad Mahdi, Kabag Kesra Setdakab, Syafrizal, Kabag Prokopim Setdakab, Alfian, serta jajaran pengurus LPTQ Kabupaten Kepulauan Meranti—semua menyaksikan lahirnya babak baru perjalanan LPTQ di bumi berjuluk “Negeri Sejuta Parit” ini.
Kepulauan Meranti pernah berdiri gagah di panggung Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Provinsi Riau. Tiga kali meraih juara umum dua, anak-anak pesisirnya sempat mencuri perhatian sebagai potensi Qur’ani yang diperhitungkan. Namun, beberapa tahun terakhir, cahaya itu seperti meredup. Prestasi yang dulunya melesat kini menurun perlahan—peringkat 7 di Rokan Hilir tahun 2022, turun ke posisi 9 di Indragiri Hulu 2023, lalu hanya sanggup bertahan di peringkat 8 di Dumai tahun lalu. Dan kini, di Bengkalis, Meranti harus puas di urutan ke-10.
Sebuah pertanyaan pun menggelayut: apa yang salah? Mengapa performa saat seleksi dan penyisihan begitu menjanjikan, tapi hasil akhir seolah belum mencapai harapan?
Padahal, ketika dulu keberangkatan kafilah tak dibiayai APBD, para peserta berjuang secara mandiri ke Rokan Hilir, Kepulauan Meranti justru pulang dengan prestasi membanggakan yakni empat juara pertama, dua juara kedua, dan satu harapan dua. Itu membuktikan, semangat mandiri dan pembinaan yang konsisten jauh lebih kuat daripada sekadar dukungan finansial.
Kini, setelah ajang Bengkalis usai, sebuah pekerjaan rumah besar menanti. Evaluasi tak cukup hanya soal teknis lomba, tetapi juga menyentuh pendampingan mental, dukungan psikologis, pola pembinaan berkelanjutan, hingga manajemen kafilah. Sebab MTQ bukan sekadar arena lomba. Ia adalah cermin bagaimana satu daerah membina nilai Qur’ani dalam denyut kehidupan warganya.
Kepulauan Meranti dikenal sebagai negeri religius, berakar kuat pada budaya Melayu-Islam. Di balik peringkat yang menurun, masih ada bara kecil yang menyala di hati para qari dan qariah muda. Empat gelar juara pertama, tiga juara ketiga, dan beberapa harapan pada MTQ tahun ini menjadi bukti bahwa potensi itu belum padam.
Yang dibutuhkan sekarang hanyalah kesungguhan untuk kembali menyalakan obor pembinaan. Agar generasi Qur’ani Meranti tak sekadar tampil penuh semangat, tapi juga siap mengembalikan kejayaan daerah ini di panggung tertinggi tilawah.
Karena sesungguhnya, MTQ bukan sekadar tentang siapa yang menang, tapi tentang sejauh mana sebuah daerah menjaga warisan suci Al-Qur’an dalam denyut kehidupannya. (R-01)

