Jalan Parit Gantung Kini Bernama Jalan AKBP H. Asmar, Warga Kedaburapat Gantungkan Harapan Perubahan
Jalan Parit Gantung, ruas sepanjang tiga kilometer yang sejak lama menjadi denyut nadi pergerakan warga, kini resmi berganti nama menjadi Jalan AKBP H. Asmar—sosok putra daerah yang saat ini menjabat sebagai Bupati Kepulauan Meranti. Foto : SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Selatpanjang - Di Desa Kedaburapat, Kecamatan Rangsang Pesisir, sebuah keputusan bersejarah lahir. Jalan Parit Gantung, ruas sepanjang tiga kilometer yang sejak lama menjadi denyut nadi pergerakan warga, kini resmi berganti nama menjadi Jalan AKBP H. Asmar—sosok putra daerah yang saat ini menjabat sebagai Bupati Kepulauan Meranti.
Pergantian nama ini bukan sekadar seremonial, melainkan lahir dari kegelisahan masyarakat. Selama bertahun-tahun, kondisi jalan tersebut memprihatinkan. Meski sudah beberapa kali mendapat bantuan perbaikan sejak masa Kabupaten Bengkalis, kerusakan jalan selalu berulang. Kini, dari tiga kilometer panjang jalan, dua kilometer di antaranya rusak parah.
Kepala Desa Kedaburapat, Mahadi, S.IP, mengungkapkan bahwa nama "Parit Gantung" dianggap sarat dengan simbol “ketergantungan” pembangunan yang tak kunjung tuntas.
"Miris sekali, setiap kali ada pembangunan jalan, selalu tidak selesai dengan baik. Padahal ini akses penting masyarakat. Karena itu kami mengganti nama jalan ini dengan nama AKBP H. Asmar, salah satu putra terbaik Meranti. Harapannya, jalan ini ke depan tidak lagi ‘tergantung’ nasibnya, tetapi bisa benar-benar tuntas," tutur Mahadi penuh harap.
Bagi masyarakat Kedaburapat, nama baru ini bukan sekadar identitas. Ia adalah doa, simbol keyakinan, sekaligus bentuk penghargaan kepada pemimpin daerah yang mereka percaya mampu membawa perubahan nyata.
Keputusan perubahan nama ini lahir dari usulan pemerintah desa dan disepakati bersama masyarakat setempat, bukan sekadar mengganti papan nama, tetapi menitipkan doa besar di baliknya.
Kepala Desa Kedaburapat, Mahadi, menegaskan bahwa penamaan jalan dengan nama bupati aktif Kepulauan Meranti itu membawa pesan moral.
“Harapan kami, setelah diberi nama tokoh penting daerah, jalan ini menjadi prioritas untuk dibangun dan diselesaikan pekerjaannya,” ujarnya penuh keyakinan.
Kini, dengan nama baru, masyarakat Kedaburapat ingin menutup cerita lama dan membuka lembaran baru. Tokoh masyarakat pun menyambut positif langkah ini. Mereka menilai, penamaan tersebut dapat menjadi simbol dorongan moral agar pemerintah lebih serius memperhatikan pembangunan infrastruktur di desa pesisir ini.
Bupati Asmar sendiri menyambut baik penghormatan yang diberikan. Bahkan, Mahadi menyebutkan, di tempat lahirnya saja di Desa Penyagun belum ada jalan yang memakai nama Asmar. Sambutan ini baginya angin segar, mudah-mudahan jalan tersebut diperhatikan dan segera diperbaiki.
Lebih jauh, Mahadi mengibaratkan pergantian nama jalan ini sebagai sebuah ikhtiar penyembuhan. “Kalau sebelumnya jalan ini diumpamakan seperti orang sakit, maka setelah diganti namanya, semoga ia tak lagi sakit. Begitu juga harapan kami, jalan ini tak rusak lagi, sehingga pembangunan bisa lebih mudah diajukan,” pungkasnya.
Kini, di papan nama jalan yang baru, terselip optimisme warga Kedaburapat yakni sebuah harapan bahwa perubahan nama membawa serta perubahan nyata bagi akses dan kesejahteraan mereka.
Bupati Kepulauan Meranti, AKBP (Purn) H. Asmar, menyambut hangat keputusan warga Kedaburapat yang mengganti nama Jalan Parit Gantung menjadi Jalan AKBP H. Asmar. Dengan penuh kerendahan hati, ia menyampaikan rasa terima kasih atas apresiasi masyarakat sekaligus menegaskan komitmennya untuk segera memperbaiki jalan tersebut.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada kepala desa dan masyarakat Kedaburapat atas apresiasi yang diberikan. InshaAllah tahun depan jalan ini akan segera kita perbaiki agar bisa dimanfaatkan masyarakat,” ujar Asmar.
Meski namanya kini resmi diabadikan sebagai nama jalan, Asmar menilai hal itu sebagai sesuatu yang lumrah dan bagian dari penghargaan masyarakat atas pengabdiannya. Namun ia menegaskan, perhatian terhadap pembangunan infrastruktur tidak boleh hanya terbatas pada jalan yang menyandang namanya.
“Bukan berarti jalan yang tidak disematkan nama saya lantas terabaikan. Infrastruktur rusak memang sudah menjadi kewajiban pemerintah daerah untuk diperbaiki,” tambahnya.
Bagi Asmar, pergantian nama jalan hanyalah simbol. Yang terpenting adalah kerja nyata membangun daerah. Ia pun menanggapi dengan tenang berbagai penilaian yang mungkin muncul di balik keputusan itu.
“Jika ada yang menilai macam-macam, biarkan saja. Artinya masyarakat mengapresiasi apa yang telah kita lakukan. Yang jelas, kita akan tetap berbuat yang terbaik untuk negeri ini,” pungkasnya. (R-03)

