IYES dan YBAM Hadirkan Lilin Harapan di Sekolah Kayu Beratap Rumbia Desa Kepau Baru : Menyulam Mimpi di Tengah Keterbatasan
Aksi nyata yang dilakukan IYES dan YBAM, dua lembaga bergerak di bidang sosial dan pendidikan ini menyasar anak di pelosok negeri dengan program Jejak Tapak Meranti. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Di pelosok Kecamatan Tebingtinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau tepatnya di Dusun III Kampung Baru, Desa Kepau Baru, berdiri sebuah sekolah sederhana yang menjadi pelita bagi anak-anak desa yakni SMA Terbuka. Usianya sudah tujuh tahun, namun kisah di baliknya adalah potret perjuangan panjang yang lahir dari kepedulian terhadap maraknya pernikahan dini di daerah tersebut dan rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan.
Negeri ini kaya, di atas tanahnya ada minyak, di bawahnya pun tersimpan minyak. Namun, kemewahan itu tak pernah benar-benar menyentuh anak-anak di Dusun Kampung Baru.
Mereka berjuang tanpa kepastian tetapi tetap memilih bertahan, anak-anak pun harus menerima kenyataan belajar tanpa fasilitas yang tak layak dan belajar di ruang kelas dari kayu beratapkan daun rumbia yang mulai bocor, tanpa WC dan fasilitas layak lainnya. Buku tak cukup, meja dan kursi pun ringkih, tak lagi kokoh menopang semangat mereka. Semua itu adalah jeritan sunyi yang jarang terdengar di luar desa.
Lebih memilukan, tidak ada guru ASN ataupun honorer yang tercatat dalam database pemerintah. Yang ada hanyalah guru pamong, para sukarelawan yang mengajar dengan hati, tanpa gaji tetap, hanya mengandalkan iuran seikhlasnya dari orang tua murid. Padahal, orang tua itu sendiri hidup dengan segala keterbatasan, berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun, di balik segala kekurangan, anak-anak ini tetap bangkit. Mereka adalah “Laskar Pelangi” dari Kampung Baru—generasi muda yang menolak menyerah pada keadaan. Mereka belajar dengan keyakinan bahwa ilmu adalah jalan keluar dari lingkaran keterbatasan. Semangat persahabatan, dorongan dari guru yang berdedikasi, serta mimpi untuk meraih masa depan yang lebih baik menjadi bahan bakar yang tak pernah padam.
Jejak Tapak Meranti: Menyulam Harapan dari Kepau Baru
Di sekolah sederhana itu yang jauh dari kata layak sebuah fasilitas pendidikan, harapan tumbuh. Harapan bahwa suatu hari, mereka bisa membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk bermimpi tinggi dan meraih kehidupan yang lebih layak.
Semua itu terungkapkan lewat aksi nyata yang dilakukan Indonesian Youth Education & Social (IYES) berkolaborasi dengan Yayasan Bakti Anak Meranti (YBAM). Dua lembaga yang sama-sama bergerak di bidang sosial dan pendidikan ini menjalin kerja sama strategis, menghadirkan energi muda sekaligus kepedulian nyata bagi masyarakat.
Kolaborasi itu lahir dalam sebuah program bernama “Jejak Tapak Meranti”. Nama yang sederhana, namun penuh makna. “Tapak” melambangkan jejak, langkah, dan perjalanan pengabdian. Dalam dunia kerelawanan, “tapak” adalah aksi nyata yang meninggalkan bekas baik, berjalan bersama masyarakat, dan memberi arti bagi kehidupan. Sedangkan “Meranti” mengakar kuat pada identitas lokal, mengingatkan bahwa perubahan besar bisa tumbuh dari tanah sendiri.
Bagi YBAM, Tapak Meranti bukan hanya label sebuah program. Ia adalah simbol keterikatan emosional, kebanggaan, dan janji bahwa setiap langkah kecil relawan akan membangun fondasi bagi perubahan besar di masa depan.
Sementara itu, IYES Mengajar 10 (IYM 10) menjadi bukti konsistensi IYES yang sudah memasuki tahun ke-10 mengirimkan relawan muda ke pelosok negeri. Mereka datang bukan sekadar mengajar, melainkan membawa semangat perubahan di enam bidang diantaranya pendidikan, kesehatan, sosial ekonomi, infrastruktur, media & komunikasi, serta riset & pengembangan.
Tahun ini, jejak itu akan sampai di Desa Kepau Baru, Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti. Desa yang jauh dari hiruk pikuk kota, namun menyimpan potensi besar pada generasi muda sekaligus tantangan nyata.
Hasil pasca-survei Juli 2025 memotret kondisi Kepau Baru, dimana anak-anak yang belajar di ruang sederhana, guru pamong yang mengajar dengan ketulusan, fasilitas yang serba terbatas, namun semangat masyarakat untuk berubah begitu kuat. Semua itu sejalan dengan misi Tapak Meranti yang mendampingi, bukan menggantikan; berjalan bersama, bukan hanya datang sesaat.
Jejak Tapak Meranti mungkin dimulai dari satu dusun kecil, namun maknanya bisa merentang panjang : menandai lahirnya generasi yang percaya bahwa pendidikan, kesehatan, dan pengetahuan adalah pintu menuju masa depan yang lebih baik.
IYES: Menyalakan Kesadaran, Membantu Pemerintah untuk Generasi Suku Akit
Di balik bangunan kayu yang lapuk dan atap rumbia yang mulai bocor, semangat anak-anak Suku Akit di Desa Kepau Baru tetap menyala. Hampir 99 persen siswa di sekolah ini berasal dari komunitas adat suku Akit yang hidup dengan segala keterbatasan. Meski ruang belajar sederhana dan fasilitas jauh dari kata layak, mata mereka selalu berbinar saat buku dibuka, saat guru pamong menyampaikan pelajaran.
Inilah yang membuat Indonesian Youth Education & Social (IYES) menaruh perhatian. Melalui program Jejak Tapak Meranti, selama 4 hari lamanya di sana mereka tidak sekadar datang untuk mengajar, tetapi juga melakukan riset—memetakan kebutuhan mendesak sekolah, agar nantinya dapat disuarakan langsung ke pemerintah dan pihak terkait.
“Kami sudah dapat data, sudah bisa diserahkan ke dinas dan stakeholder terkait untuk membantu adik-adik di sini. Semangat belajar mereka luar biasa, tapi mereka masih terhalang banyak persoalan dan harus menghadapi kenyataan seperti ini,” ujar Cut Annisa Utami, selaku Eksekutif Director IYES, saat ditemui di Kepau Baru.
Bagi Cut Annisa, apa yang dilakukan IYES bukanlah untuk menggantikan peran pemerintah. Sebaliknya, mereka berusaha mengisi celah yang masih kosong. “Intinya membantu pemerintah, jadi awareness pemerintah untuk tindaklanjuti ini secepatnya. Walaupun mereka turunnya lambat, kami berharap temuan kami bisa memantik perhatian lebih,” tuturnya.
Ia menambahkan, keterbatasan waktu dan pendanaan membuat relawan tak bisa tinggal lama. Namun, jejak yang ditinggalkan diharapkan mampu menggugah nurani semua pihak.
“Mungkin setelah kami selesai dari sini, sudah mengupdate dan mengemukakan semua temuan kami, pemerintah bisa lebih cepat bertindak. Karena sejatinya, anak-anak ini tidak boleh terus belajar dalam keterbatasan seperti sekarang. Kami juga tidak bisa lama karena semuanya juga ada kesibukan lain begitu juga dengan pendanaan," tuturnya lagi.
Di tengah keterbatasan fasilitas, hadir sosok-sosok muda yang mencoba menyalakan semangat belajar. Salah satunya Cut Annisa seorang mahasiswi jurusan Hubungan Internasional Universitas Islam Riau (UIR), semester V angkatan 2023, yang ikut serta dalam program Jejak Tapak Meranti.
Ia menuturkan, dirinya bersama rekan-rekan tidak banyak menyentuh pelajaran formal yang sudah diberikan oleh guru pamong. Fokus mereka lebih kepada pendekatan emosional dan motivasi.
“Kami lebih memberikan edukasi yang bersifat fun learning—bercerita tentang cita-cita, mendengar curhat berbagai problem yang dihadapi anak-anak, serta memberikan dorongan semangat belajar. Casenya memang sangat banyak, apalagi terkait stigma masyarakat,” ujarnya.
“Rasanya kurang tepat jika kami ikut mengajarkan pelajaran formal, karena itu sudah menjadi bagian guru pamong. Kami memilih jalur lain, termasuk memberikan edukasi tentang kesehatan reproduksi atau sex education, karena masih banyak pernikahan dini di sini," ungkapnya.
Pendekatan sederhana itu ternyata membuahkan hasil yang tak terduga. Dari interaksi ringan, lahirlah kepercayaan diri baru pada anak-anak.
“Setelah diberikan motivasi dan pendekatan, ternyata mereka yang tinggal di pelosok desa punya daya tangkap luar biasa. Mereka mencernanya cepat, bahkan terlihat begitu excited dan anyak yang awalnya enggan datang ke sekolah, kini justru hadir karena diajak oleh teman-temannya," tuturnya sambil tersenyum.
Bagi mahasiswi itu, pengalaman ini membuka mata bahwa di balik segala keterbatasan, anak-anak di pelosok menyimpan potensi besar. Mereka hanyalah mutiara yang terpendam, menunggu disentuh dengan kasih, motivasi, dan kesempatan untuk bersinar.
Di Desa Kepau Baru, di tengah hamparan hutan dan kebun sagu yang membatasi akses, tersembunyi kisah anak-anak Suku Akit yang harus belajar dengan cahaya lampu minyak sesungguhnya memiliki mimpi besar. Mereka ingin bersekolah lebih tinggi, ingin melanjutkan kuliah, bahkan bercita-cita menjadi guru, perawat, atau profesi lain yang mereka bayangkan.
Namun, semua itu sering kandas bukan karena kurangnya semangat, melainkan terbentur cara pandang masyarakat yang masih monoton: sekolah hanya sampai SMA, lalu bekerja atau menikah.
“Keinginan itu sebenarnya ada. Mereka ingin jadi ini dan itu, tapi terbentur dana, perizinan keluarga, hingga budaya yang masih kuat. Dalam beberapa kasus, anak perempuan bahkan hanya diizinkan untuk tinggal di rumah. Infrastruktur pun jadi kendala—listrik tidak stabil, sinyal komunikasi terbatas. Semua persoalan itu saling terkait," tutur Cut Annisa Utami.
Namun, di balik keterbatasan itu, semangat anak-anak tidak pernah padam. Kehadiran relawan IYES dengan berbagai latar belakang justru menjadi pelecut motivasi baru.
“Kayaknya ini yang mereka tunggu—ada orang luar yang hadir, berbagi cerita, dan membuka cakrawala. Dari situ, mindset mereka mulai bergeser. Yang tadinya hanya berpikir sekolah sampai SMA lalu kerja dan nikah, ternyata setelah digali lebih dalam mereka punya mimpi indah,” ungkap Cut Annisa.
Anak-anak Suku Akit di Kepau Baru memang ibarat mutiara yang masih terpendam. Dengan sedikit dorongan, motivasi, dan teladan, mereka mampu melihat bahwa dunia lebih luas dari sekadar lingkaran tradisi. Bahwa pendidikan bukan hanya soal ijazah, tetapi jalan menuju mimpi yang selama ini mereka simpan rapat-rapat di hati kecil mereka.
Cut panggilan sehari- harinya merupakan mahasiswa asal Aceh itu mengungkapkan betapa beratnya perjuangan anak-anak di pelosok ini.
“Adik-adik di sini punya semangat luar biasa, tapi fasilitas yang mereka miliki sangat minim. Kursi hanya dari plastik, meja lapuk, buku tidak cukup. Mereka mau belajar, tapi kenyataan yang dihadapi sungguh memprihatinkan,” ucapnya.
Lebih lanjut diungkapkan fasilitas yang serba terbatas dengan semangat belajar yang keras membuat kondisi sangat kontras. Anak-anak memang duduk di kursi plastik. Namun meja yang mereka gunakan sebagian sudah lapuk, bahkan bolong. Buku yang tersedia pun sangat terbatas, tak sebanding dengan jumlah siswa yang haus ilmu. Namun, di balik segala keterbatasan itu, semangat belajar mereka tetap menyala.
Kondisi itu semakin diperparah dengan peliknya masalah tenaga pengajar. Para guru pamong yang sehari-hari mendampingi anak-anak—ternyata tidak tercatat dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Alhasil, mereka tidak mendapatkan gaji dari negara, padahal mereka mendidik para generasi bangsa.
“Gaji guru pamong justru berasal dari iuran orang tua siswa. Padahal ekonomi keluarga mereka juga terbatas. Sementara itu, buku dan alat tulis berasal dari sekolah induk, tapi sering kali jatahnya tidak mencukupi,” tambah sang mahasiswa.
Persoalan lain pun muncul dari guru sekolah induk yang jarang hadir. Idealnya mereka memberi pengajaran secara berkala, tetapi kenyataannya hanya datang dua sampai tiga bulan sekali.
“Dana mereka untuk turun ke sini tertahan hampir satu tahun dengan berbagai alasan. Jadi guru sekolah induk tidak bisa maksimal hadir. Akhirnya yang benar-benar menopang pendidikan di sini hanya empat relawan guru pamong yang digaji seadanya dari iuran orang tua siswa,” ungkapnya.
Kisah ini menjadi potret nyata betapa kompleksnya problematika pendidikan di pelosok Kepulauan Meranti. Anak-anak dengan semangat belajar tinggi harus berhadapan dengan meja bolong, buku terbatas, guru tanpa gaji, hingga tenaga pengajar formal yang jarang hadir. Sebuah ironi di negeri yang selalu menjanjikan pemerataan pendidikan.
Bagi seorang mahasiswa, berinteraksi dengan masyarakat luar kampus adalah bagian dari perjalanan belajar. Dunia perkuliahan tidak hanya membatasi diri di ruang kelas, melainkan juga membuka jalan untuk mengeksplorasi pengalaman baru. Namun, ketika langkah kaki menjejak di sebuah sekolah sederhana di Kepau Baru, rasa haru seketika menyeruak.
“Kedatangan kami di sini murni karena ada rasa kepedulian, ingin merasakan apa yang mereka rasakan. Jujur saja, kami sudah berkecukupan. Tapi dalam Sustainable Development Goals poin ke-4 tentang pendidikan dan keberlanjutan, ada amanah yang harus dijalankan. Apa yang tidak didapatkan adik-adik di sini, sebisa mungkin kami hadirkan. Itu bagian dari rasa peduli dan tanggung jawab kami," tutur Cut.
Keberadaan para mahasiswa ini bukan untuk menggantikan peran siapa pun, melainkan untuk berbagi. Di tengah keterbatasan fasilitas, mereka menghadirkan motivasi, pengalaman, hingga sedikit bantuan yang diharapkan bisa menjadi pemantik semangat.
“Alhamdulillah, kami masih bisa memberikan dampak walaupun kecil. Entah itu lewat motivasi belajar, bantuan pembangunan, atau sekadar mendengar cerita mereka. Walau sedikit, setidaknya mampu menggerakkan hati kecil anak-anak ini,” lanjutnya.
Ia juga menyadari bahwa terlalu berharap pada pemerintah bukanlah solusi cepat.
“Sejak 2018 sampai sekarang progresnya stagnan. Kami tidak tahu seperti apa dapur pemerintah, tapi yang jelas kami tak bisa hanya menunggu. Fokus kami lebih kepada anak-anak ini, karena semangat belajar mereka begitu besar,” tuturnya dengan nada penuh empati.
Kedatangan mereka ke pelosok memang sederhana—bukan dengan janji besar, melainkan dengan hati yang tulus. Dari tangan-tangan mahasiswa itu, anak-anak Suku Akit kembali percaya bahwa pendidikan tetap pantas diperjuangkan, meski dalam segala keterbatasan.
Empat hari berada di pelosok Desa Kepau Baru, Cut Annisa Utami merasakan sendiri denyut perjuangan anak-anak Suku Akit dalam menempuh pendidikan. Dari matanya, ia melihat kepedulian dan semangat luar biasa yang hidup di tengah segala keterbatasan.
Ada yang setiap hari berjalan kaki hingga tiga jam pulang pergi hanya untuk sampai ke sekolah. Di tengah perjalanan yang panjang dan fasilitas yang serba minim, mereka tetap hadir dengan wajah penuh harapan. Bahkan, dari sekolah sederhana ini, sudah lahir kisah inspiratif yakni ada yang berhasil menembus pendidikan tinggi di universitas ternama, ada pula yang kini mengabdi sebagai anggota polisi.
“Setelah empat hari di sini, saya merasa bangga pada mereka. Dengan semua keterbatasan, mereka masih semangat bersekolah. Tidak ada kepastian bisa kuliah, tapi mereka tetap bertahan untuk belajar. Itu membuat saya sedih sekaligus kagum,” ucap Cut Annisa dengan mata berkaca.
Namun di balik semangat itu, kenyataan pahit masih menyelimuti. Guru pamong—relawan yang menjadi tulang punggung pendidikan di sekolah ini tidak mendapat perhatian layak dari pemerintah. Gaji mereka bukan dari negara, melainkan hasil iuran orang tua murid yang juga hidup dalam kesederhanaan.
“Di satu sisi, saya terharu karena orang tua peduli pendidikan anak-anaknya, rela menyisihkan uang untuk guru pamong. Tapi di sisi lain, pemerintah juga kita bilang lalai juga tidak karena mungkin satu hal kendala sehingga ada alokasi dana tidak sampai, ada alur kerja yang terhambat. Jadi kompleks. Yang benar-benar peduli terhadap pendidikan di sini jumlahnya tidak banyak, dan itu patut diapresiasi dan tamatan juga ada yang jadi polisi, itu juga sebuah pencapaian di tengah kondisi seperti ini," pungkasnya.
Bagi Cut Annisa, kondisi ini adalah panggilan hati untuk segera ada tindak lanjut. Ia percaya, jika saja dukungan dan perhatian lebih diberikan, maka akan lahir lebih banyak lagi cerita keberhasilan—lebih banyak anak dari pelosok ini yang bisa melangkah keluar, menjemput mimpi besar mereka.
Di balik dinding kayu sekolah itu, semangat belajar anak-anak Suku Akit terus tumbuh. Selama ini, pelajaran seperti kimia dan fisika hanya diajarkan sebatas teori, tanpa pernah menyentuh praktik. Kondisi ini membuat siswa sulit memahami apa yang mereka pelajari.
Melihat kenyataan itu, Alya Salzabila, Project Leader Indonesian Youth Education & Social (IYES), merasa perlu menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda.
“Guru dari sekolah induk datang hanya sekali, sehingga pelajaran seperti kimia dan fisika tidak maksimal, diajarkan tanpa praktik. Maka waktu itu kami coba buatkan pembelajaran berbasis praktikum—misalnya larutan, rainbow light—agar mereka bisa memahami apa yang dipelajari,” jelas Alya.
Program IYES Mengajar 10 dan Jejak Tapak Meranti tidak sekadar memberi pelajaran tambahan, melainkan juga menghadirkan agenda pemberdayaan pendidikan, sosial, dan kemasyarakatan. Ada kegiatan belajar mengajar, perbaikan fasilitas sekolah, pelatihan tenaga pengajar, hingga pentas seni. Tidak ketinggalan, pemeriksaan kesehatan, sosialisasi gizi, mini riset, demonstrasi olahan pangan lokal, serta dokumentasi kisah inspiratif dalam bentuk video.
Di bidang sosial-ekonomi, para relawan juga mengajak siswa dan masyarakat mengolah potensi sagu—komoditas utama di daerah ini dengan praktik langsung membuat gula sagu. Sementara itu, tenaga medis dari kalangan dokter dan perawat yang turut serta memberikan layanan pengobatan gratis, bahkan melakukan kunjungan dari rumah ke rumah.
Perhatian juga diarahkan pada infrastruktur sekolah. Atap yang rapuh diperbaiki, pondok baca dibangun, WC dan area parkir dibuat, serta tempat upacara disiapkan agar anak-anak bisa bersekolah dengan lebih layak.
Program ditutup dengan Pentas Seni Laskar Pelangi, di mana para siswa menampilkan bakat dan minat mereka. Tawa, nyanyian, dan tarian sederhana itu menjadi simbol bahwa meski belajar di tengah keterbatasan, semangat anak-anak tetap berkilau seperti pelangi setelah hujan.
Langkah kecil menuju perubahan besar kadang dimulai dengan cara sederhana. Itulah yang dilakukan oleh Alya Salzabila, mahasiswa Universitas Riau jurusan Bahasa Jepang semester III, bersama rekan-rekannya. Demi bisa berangkat ke Kepau Baru, mereka selain mengandalkan dana pribadi, juga bergerak dengan semangat gotong royong.
Sebelum tiba di pelosok, Alya dan tim rela turun ke jalan. Selama dua minggu, mereka menggalang dana lewat open performance—ngamen di sejumlah kafe di Kota Pekanbaru, membuka donasi online, hingga mengajak masyarakat berdonasi langsung di jalanan. Dari sana, sedikit demi sedikit, biaya perjalanan dan program terkumpul.
“Pergerakan kami murni karena donasi. Ada dukungan dari banyak pihak, seperti Baznas Riau, PT Sambu, hingga influencer Zelina Fahrani. Tapi sebagian besar adalah hasil keringat sendiri dari ngamen dan menggalang donasi,” ujar Alya dengan bangga.
Bagi Alya, perjuangan ini bukan sekadar mencari dana, melainkan juga menguji komitmen: seberapa jauh mereka siap berkorban demi pendidikan anak-anak di pelosok.
“Kami berharap ada lebih banyak dermawan yang peduli. Karena sesungguhnya, mereka di pelosok sangat membutuhkan sentuhan tangan kita,” tambahnya.
Gerakan kecil ini membuktikan, bahwa kepedulian tidak harus menunggu besar. Dari suara gitar di kafe hingga kotak donasi di pinggir jalan, ada semangat tulus yang akhirnya membawa cahaya harapan ke sekolah sederhana di Kepau Baru.
Romathin, Sosok di Balik Berdirinya SMA Terbuka untuk Anak-Anak Suku Akit
Pendirian sebuah sekolah sederhana yang menjadi harapan baru bagi anak-anak Suku Akit itu ada karena berkat tekad seorang pria bernama Romathin, yang sebenarnya bukan warga asli desa tersebut. Ia berasal dari Desa Sungai Cina, Kecamatan Rangsang Barat, namun memutuskan menetap di Kepau Baru setelah menikah dengan perempuan setempat.
Perjalanan Romathin mendirikan sekolah terbuka dimulai pada 2018 silam. Saat itu, ia menyaksikan kenyataan pahit yakni banyak anak-anak Suku Akit yang baru menamatkan SMP tidak lagi melanjutkan sekolah. Para laki-laki memilih bekerja, sementara perempuan lebih cepat menikah.
Pilihan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA sebenarnya ada, tetapi lokasinya hanya di Desa Sungai Tohor, ibukota Kecamatan Tebingtinggi Timur yang harus ditempuh lewat jalur laut karena tidak ada akses darat waktu itu. Jarak, biaya, dan keterbatasan membuat anak-anak di Kepau Baru seolah kehilangan masa depan.
“Yang membuat saya tergugah adalah banyak anak-anak di sini setelah menamatkan SMP tidak mau melanjutkan lagi dengan berbagai alasan. Faktor ekonomi dan jauhnya jarak membuat banyak yang putus sekolah. Kalau sekarang, alhamdulillah, sudah 90 persen mau masuk sekolah,” ujar Romathin dengan nada syukur.
Berkat keputusannya membuka SMA Terbuka, kini lebih banyak remaja Suku Akit yang kembali melanjutkan pendidikan. Data menunjukkan ada lebih dari 50 siswa, meski yang tercatat resmi baru 47 orang. Sisanya masih ragu, memilih membantu orang tua bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Meski sederhana, sekolah ini menjadi benteng terakhir agar anak-anak tidak kehilangan hak atas pendidikan. Dan di balik itu semua, ada sosok Romathin seorang pendatang yang menjadikan Kepau Baru rumahnya, sekaligus medan perjuangan untuk menyelamatkan generasi muda dari putus sekolah.
Kenangan Juli 2018 masih begitu jelas bagi Romathin, pengelola SMA Terbuka di Desa Kepau Baru. Saat itu, ia tidak sendiri. Ada tangan dermawan seorang pengusaha lokal keturunan Tionghoa, Aseng Budiono, yang menjadi penyokong utama lahirnya sekolah sederhana ini.
Aseng tak hanya memberi harapan, tapi juga wujud nyata. Ia menghibahkan lahan seluas 3 hektare lengkap dengan bangunan kayu sederhana yang dijadikan ruang kelas dan satu kantor. Di dalamnya, meja dan kursi sudah tersedia, menanti anak-anak Suku Akit yang haus ilmu.
Awal berdiri, suasana sekolah cukup ramai. Ada sembilan guru yang mengabdi, gajinya dibayarkan langsung oleh Aseng dengan jumlah Rp1,8 juta per bulan. Semua berjalan dengan baik, meski tanpa dukungan pemerintah.
Namun, waktu terus berjalan. Aseng akhirnya mengaku tak sanggup lagi menanggung semua biaya. Kewalahan, ia harus menghentikan bantuannya. Satu per satu guru terpaksa berhenti, hingga tersisa hanya dua orang—salah satunya Romathin sendiri.
“Awal sekolah dibuka ada sembilan guru yang mengabdi dengan gaji ditanggung donatur. Namun lama-kelamaan sang donatur kewalahan, gaji dihentikan, dan banyak yang berhenti. Tinggal dua guru saja, termasuk saya,” kenang Romathin.
Dalam kondisi sulit itu, jalan keluar ditemukan lewat musyawarah bersama orang tua siswa. Mereka sepakat untuk tetap mempertahankan sekolah dengan cara bergotong royong. Setiap keluarga berkomitmen membayar Rp100 ribu per bulan, meski memiliki lebih dari satu anak tetap dikenakan iuran yang sama.
Keputusan itu mungkin terdengar sederhana, namun bagi masyarakat Suku Akit yang hidup dengan segala keterbatasan, Rp100 ribu bukanlah angka kecil. Meski begitu, mereka rela berkorban demi pendidikan anak-anaknya, agar pintu ilmu tetap terbuka meski dukungan pemerintah belum hadir sepenuhnya.
Dari sinilah SMA Terbuka Kepau Baru terus bertahan dan berdiri di atas lahan sumbangan, bernafas dari keringat masyarakat, dan dijaga dengan tekad tak pernah padam.
Di sekolah itu, pengelolanya, Romathin sudah berkali-kali harus berjuang keras agar pintu pendidikan itu tidak benar-benar tertutup.
Ia mengaku, sempat menyampaikan kepada orang tua siswa bahwa sekolah bisa saja tutup jika tidak ada yang bersedia menyumbang. Selain iuran dari warga, sekolah ini pernah mendapat dukungan dari seorang anggota DPRD. Namun, setelah sang wakil rakyat kalah di kontestasi berikutnya, bantuan itu ikut terhenti.
Kini, hanya iuran orang tua yang menjadi penopang utama. Dari uang itulah gaji empat orang guru dibayarkan, masing-masing sebesar Rp1,5 juta per bulan. Jumlah yang jelas belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, Romathin mencari tambahan penghasilan dengan membuka jasa cuci motor dan menjual bensin eceran. Sepulang mengajar, ia kembali menjadi pekerja kecil demi bisa terus bertahan.
Namun, keterbatasan jumlah guru membuat beban kerja semakin berat. Dengan hanya empat pengajar, seorang guru pamong terpaksa merangkap hingga empat mata pelajaran sekaligus. Proses belajar mengajar berjalan, tapi jauh dari ideal.
Ada sedikit keringanan setelah Romathin berkoordinasi dengan sekolah induk, SMAN 1 Tebingtinggi Timur. Jika ada peralatan rusak atau buku kurang, mereka bisa meminta, meski harus bersabar menunggu proses yang kerap memakan waktu lama.
Dari Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Romathin pernah menerima dana transportasi. Sayangnya, pencairannya tidak pernah lancar—kadang enam bulan sekali, bahkan hampir setahun. Beberapa bulan terakhir, dana itu pun berhenti tanpa penjelasan jelas.
Yang lebih menyedihkan, hingga kini para guru pamong belum terdaftar dalam sistem Dapodik (Data Pokok Pendidikan). Akibatnya, mereka tidak tercatat sebagai penerima gaji dari dana BOS. “Kami di sini para guru pamong tidak masuk Dapodik, tidak masuk daftar dana BOS untuk dibayarkan gaji. Sudah lama disampaikan, tapi belum ada jawaban. Prosedurnya seperti apa, saya juga tidak tahu,” tutur Romathin.
Meski kondisi sekolah kerap membuat hati teriris, Romathin tetap menemukan alasan untuk bangga. Sejak berdiri, lebih dari 50 siswa telah lulus dari SMA Terbuka Kepau Baru. Beberapa bahkan sudah melangkah lebih jauh, seperti seorang alumni yang kini bertugas sebagai polisi di Polres Kepulauan Meranti.
Namun, persoalan belum berakhir. Tantangan terbesar yang masih ia hadapi adalah bagaimana membuat seluruh anak tetap mau bersekolah. Sebagian siswa sering tidak masuk karena lebih memilih membantu orang tua mencari nafkah.
“Saat ini yang belum bisa saya carikan solusinya adalah banyak siswa saya yang kadang-kadang bahkan jarang masuk sekolah karena faktor lingkungan dan alasan mencari uang untuk membantu orang tua memperbaiki ekonomi keluarga,” pungkas Romathin.
Sekolah itu mungkin berdiri di atas tanah yang rapuh, tapi semangat para guru dan muridnya terus berusaha kokoh. Dari ruang kelas sederhana inilah, harapan untuk masa depan anak-anak Kepau Baru dipertaruhkan.
Lilin-Lilin Harapan dari Kepau Baru: Ketika IYES dan YBAM Menyapa Pelosok Negeri
Hari terakhir kegiatan kolaborasi IYES dan YBAM di sekolah sederhana Kepau Baru terasa hangat sekaligus haru. Di tengah lapangan sekolah lahan gambut itu, Hari Novar, Founding President Indonesian Youth Education & Social (IYES), menyampaikan pesan penuh semangat kepada para siswa.
Ia berharap kunjungan singkat ini tidak sekadar menjadi pertemuan biasa, melainkan sebuah awal dari perjalanan panjang mendampingi anak-anak di pelosok.
“Kami berharap bisa ke sini lagi, membimbing adik-adik di pelosok ini. Ke depan, kita bisa menjalin komunikasi lebih erat, karena saya senang datang ke tempat seperti ini. Selalu ada lilin-lilin kecil yang memberikan harapan untuk masa depan,” ujar Hari Novar dengan mata berbinar.
Dari pihak Yayasan Bakti Anak Meranti (YBAM), hadir langsung Sekretaris Hafizan, menggantikan Ketua Zuriyadi Fahmi yang berhalangan. Ia menegaskan bahwa kegiatan kolaborasi ini bukan hal kecil, melainkan langkah besar untuk sebuah pelosok di pedalaman Riau.
“Sebelum kegiatan ini dilaksanakan, kami turun melakukan survei pada Juli lalu. Banyak rintangan yang kami hadapi. Tapi kami bersyukur, IYES hadir dari kota ke pelosok, melihat langsung pola pendidikan di sini. Kehadiran teman-teman memberikan dampak besar bagi adik-adik. Ke depan, kita harap bisa bersama-sama lagi mempersembahkan sesuatu untuk generasi bangsa,” ucap Hafizan.
Suara apresiasi juga datang dari pemerintah desa. Sekretaris Desa Kepau Baru menyampaikan rasa syukur atas manfaat nyata yang dirasakan warganya—dari pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi.
“Kami menilai kegiatan ini luar biasa. Banyak manfaat yang kami rasakan. Harapan kami, kondisi seperti ini bisa membawa perubahan, setidaknya bertahan untuk saat ini. Perlu diketahui, SDM di sini masih rendah. Semoga kualitas pendidikan semakin baik dan bisa memajukan adik-adik semua,” tuturnya.
Di hari itu, Kepau Baru tidak sekadar menjadi lokasi kegiatan, melainkan saksi tumbuhnya asa baru. Dari kolaborasi IYES dan YBAM, lahirlah sebuah keyakinan bahwa di pelosok, selalu ada cahaya kecil yang mampu menyalakan masa depan. (R-01)

