Bupati Kepulauan Meranti Asmar Tekuni Usaha Ternak di Rumah: Kini Dari Kambing hingga Telur Bebek Panen Hasil
Bupati Kepulauan Meranti, Asmar saat meninjau dan memeriksa kandang sapi miliknya. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Di balik sosoknya sebagai Bupati Kabupaten Kepulauan Meranti, AKBP (Purn) H. Asmar ternyata menyimpan sisi kehidupan yang sederhana dan membumi. Di tengah padatnya agenda sebagai pemimpin daerah, ia memiliki cara unik dan bermakna dalam mengisi waktu luangnya.
Saat hari libur tiba, alih-alih beristirahat total atau bepergian ke luar kota, Asmar memilih kembali ke akarnya—rumahnya di Desa Banglas, Kecamatan Tebingtinggi. Di sana, tepatnya di kediamannya di Jalan Pemuda Setia, ia menyegarkan diri dengan kegiatan beternak.
Di belakang rumah ada lahan kosong miliknya, ia memelihara ayam kampung, bebek, kambing, dan berbagai hewan ternak lainnya. Kegiatan ini tidak hanya menjadi pelepas penat, namun juga bagian dari caranya menjaga kewarasan dan produktivitas di tengah tuntutan jabatan.
Hal ini dilakukan agar waktu luang tersebut termanfaatkan dengan baik. Selain itu, beternak juga dapat menjadi kegiatan yang menyenangkan dan menghasilkan.
"Daripada waktu terbuang sia-sia, lebih baik dimanfaatkan untuk hal yang bermanfaat. Beternak ini juga menyenangkan, bisa jadi terapi sekaligus menghasilkan," ucap Asmar saat wartawan datang berkunjung kesana.
Tak hanya itu, Asmar juga diketahui memiliki peternakan sapi, tambak udang Vaname, dan kolam ikan kakap di beberapa lokasi lain. Semua dikelola secara mandiri bersama keluarganya, tanpa banyak sorotan.
Apa yang dilakukan Asmar seolah menjadi pengingat bahwa seorang pemimpin tak harus selalu tampil formal. Terkadang, kebijaksanaan juga tumbuh dari kesederhanaan: dari bau kandang, suara ayam berkokok, dan tangan yang tak segan menyentuh tanah.
Tak hanya sukses memimpin roda pemerintahan di Kabupaten Kepulauan Meranti, Bupati AKBP (Purn) H. Asmar juga sukses menunjukkan sisi lain dirinya sebagai peternak yang visioner. Di sela-sela kesibukannya sebagai kepala daerah, Asmar menyalurkan minat dan energinya untuk membangun usaha ternak yang kini menunjukkan hasil menggembirakan.
Usaha yang dimulainya secara perlahan itu kini berkembang pesat. Dari awalnya hanya membeli 8 ekor kambing, kini jumlahnya sudah bertambah menjadi 20 ekor hasil dari perkembangbiakan alami. Di pekarangan belakang rumahnya, Asmar juga memelihara 40 ekor ayam kampung yang menjadi bagian dari rutinitas harian penuh kesahajaan.
Tak hanya itu, usaha ternaknya meluas ke sektor perairan. Tambak udang Vaname miliknya baru-baru ini telah panen perdana dengan hasil mencapai 1 ton. Sementara tambak ikan kakap yang juga dikelolanya telah berhasil dipanen, meskipun hasilnya tidak dijual, melainkan digunakan untuk konsumsi pribadi dan dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Menariknya, Asmar kini juga sedang fokus mengembangkan usaha ternak bebek petelur asal Payakumbuh, Sumatera Barat. Bebek-bebek ini dikenal sebagai hasil persilangan antara bebek lokal dengan bebek petelur unggulan. Saat ini sudah ada 400 ekor yang baru dua bulan dipelihara, dengan produksi telur mencapai 100 butir per hari—jumlah yang diprediksi akan terus meningkat seiring waktu dan sedang dalam pemesanan yang menargetkan kuotanya 1.000 ekor.
Harga satu butir telur bebek dijual seharga Rp 2.500. Menurut Asmar, 400 ekor bibit bebek tersebut dibeli bersama dua ton pakan dengan total biaya sekitar Rp 90 juta. Masa produktif bebek ini diperkirakan berlangsung selama 1 tahun 8 bulan. Setelah itu, bebek yang sudah tak produktif akan dijual kembali ke daerah asal untuk dipotong, dan hasil penjualannya digunakan sebagai modal pembelian bibit baru.
"Semuanya butuh proses dan kesabaran. Tapi saya yakin kalau dijalani dengan serius dan hati yang senang, pasti membuahkan hasil," ujarnya dengan senyum penuh keyakinan.
Dari kandang ternak, kisah Asmar adalah bukti bahwa kerja keras dan ketekunan bisa berjalan berdampingan dengan pengabdian sebagai pemimpin. Ia menanam nilai bahwa jabatan tak membatasi langkah untuk tetap produktif dan memberi contoh nyata, bukan hanya kata.
Apa yang dilakukan Bupati Kepulauan Meranti, AKBP (Purn) H. Asmar, tak hanya sekadar kegiatan pengisi waktu luang. Usaha ternak yang ia tekuni di sela kesibukannya sebagai kepala daerah kini justru berkembang pesat dan bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk memulai usaha serupa.
Sejak muda, Asmar memang memiliki kecintaan terhadap dunia peternakan. Kini, hobi itu ia wujudkan kembali dengan lebih serius, tidak hanya sebagai kesenangan pribadi tetapi juga sebagai peluang usaha yang menjanjikan. Menurutnya, potensi beternak sangat besar jika ditekuni dengan niat dan strategi yang tepat.
“Memang saya sudah hobi beternak sejak usia muda. Semoga ini bisa jadi motivasi bagi masyarakat, agar usaha peternakan bisa menjadi jalan untuk memperbaiki ekonomi keluarga,” ujarnya.
Asmar tak sekadar membesarkan usahanya sendiri. Ia juga menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Sejumlah orang dilibatkan dalam pengelolaan ternaknya, mulai dari mencari pakan tambahan hingga membersihkan kandang setiap hari. Hal ini membuktikan bahwa usaha ternak bukan hanya soal keuntungan pribadi, tapi juga memberi manfaat sosial dan ekonomi bagi lingkungan sekitar.
Bupati Asmar menambahkan, jika dirinya yang memiliki tanggung jawab besar sebagai kepala daerah masih bisa meluangkan waktu untuk beternak, maka tak ada alasan bagi masyarakat untuk tidak mencoba. Ia bahkan menyebut, hasil ternak seperti telur bebek nantinya bisa disalurkan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), dan dalam jangka panjang berpotensi dipasarkan ke luar daerah.
Tak menutup mata terhadap kendala yang mungkin dihadapi masyarakat, terutama soal permodalan, Asmar menyarankan agar warga memanfaatkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari perbankan. Namun, ia mengingatkan agar pinjaman tersebut benar-benar digunakan untuk keperluan usaha, bukan untuk pembelian barang konsumtif.
“Saya harap masyarakat jangan ragu. Kalau terkendala modal, manfaatkan program KUR. Lengkapi persyaratannya dan pastikan dana itu digunakan untuk usaha, bukan untuk beli motor atau keperluan konsumtif lainnya,” tegasnya.
Dengan keteladanan yang ditunjukkan Asmar, kisah ini menjadi pengingat bahwa usaha kecil yang dimulai dari niat baik dan kerja keras bisa tumbuh besar. Bahkan bisa menjadi contoh nyata bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya soal mengatur, tapi juga memberi teladan langsung dari lapangan. (R-01)

