Aroma Kopi Menuju Pasar Dunia: Liberika Meranti Menyeduh Asa Ekspor Lewat Program Desa Devisa
Kick Off Desa Devisa Kopi Kepulauan Meranti dilaksanakan di Desa Kedabu Rapat, Kecamatan Rangsang Pesisir, Rabu (30/7/2025). Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Di ujung timur Provinsi Riau, tepatnya di Desa Kedabu Rapat, Kecamatan Rangsang Pesisir, aroma kopi tak sekadar harum diseduh—tapi juga mulai tercium hingga ke pasar global. Desa kecil di Kabupaten Kepulauan Meranti ini resmi menyandang status Desa Devisa, berkat komoditas kopi Liberika yang tumbuh subur di tanah gambutnya.
Kegiatan itu dilaksanakan di Desa Kedabu Rapat, Kecamatan Rangsang Pesisir, Rabu, 30 Juli 2025 yang menjadi momen bersejarah bagi masyarakat petani kopi Kepulauan Meranti. Di sinilah semangat untuk menembus pasar global dimulai secara resmi melalui Kick Off Desa Devisa Kopi Kepulauan Meranti.
Ditandai dengan penyerahan Rompi Desa Devisa kepada para petani dan pengurus koperasi, kegiatan tersebut menjadi simbol dimulainya babak baru dalam pengembangan kopi lokal yang tak hanya menjanjikan dari segi rasa, tetapi juga dari sisi ekonomi kerakyatan. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelatihan pendampingan manajemen koperasi, sebagai langkah awal penguatan kelembagaan dan tata kelola produksi menuju ekspor yang berkelanjutan.
Lokasi kegiatan berlangsung di Sentra Kopi Liberika—sebuah bangunan megah yang tak hanya menjadi tempat produksi, tetapi juga simbol perjuangan. Gedung ini dibangun melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) APBN Tahun 2021 dengan total anggaran sebesar Rp2,68 miliar. Sementara untuk mesin dan peralatan pengolahan, telah lebih dahulu dipersiapkan sejak tahun 2019 dengan anggaran Rp2,1 miliar.
Kehadiran berbagai pihak dalam kegiatan ini menunjukkan besarnya dukungan dan perhatian terhadap potensi Kopi Liberika Meranti. Terlihat hadir perwakilan Kantor Kemenkeu Riau, perwakilan LPEI, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan UKM Meranti yang dipimpin Kepala Dinas Marwan beserta Sekretaris Miftahulaid, Kepala Bidang Koperasi Eko Priyono, serta Kabag Ekonomi Setda Meranti M. Syukri.
Hadir pula anggota DPRD Meranti Al Amin, Camat Rangsang Pesisir, dan Ketua Kelompok Indikasi Geografis (IG) Masyarakat Peduli Kopi Liberika Rangsang Meranti (MPKLRM), Abdul Hakim—tokoh masyarakat yang selama ini menjadi motor penggerak gerakan petani kopi di daerah ini.
Kick Off Desa Devisa ini bukan akhir, tapi permulaan. Permulaan dari lahirnya sebuah ekosistem kopi yang dikelola bersama, dikelola serius, dan diarahkan untuk membuka pasar baru di luar negeri. Harapan disematkan, bukan hanya untuk mencicipi kejayaan ekspor, tapi juga untuk menciptakan kesejahteraan yang merata dari akar rumput.
Status ini bukan sekadar nama. Ia membawa serta harapan besar dan tanggung jawab baru yakni menjadikan produk lokal tidak hanya kebanggaan daerah, tetapi juga komoditas ekspor yang layak bersaing di pasar internasional.
Desa Devisa sendiri merupakan program dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank, yang mengusung semangat community development. Tujuannya jelas—meningkatkan kapasitas masyarakat desa dalam mengelola komoditas unggulan sebagai upaya pemberdayaan komunitas desa yang memiliki produk unggulan ekspor. Mulai dari pendampingan teknis, peningkatan kualitas produksi, hingga pengenalan kebutuhan dan spesifikasi pasar global.
Visi ini bukan sekadar wacana, melainkan bagian dari mandat negara yang dijalankan oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 2009 dan PP No. 43 Tahun 2019.
Melalui payung hukum tersebut, LPEI memiliki peran tak hanya sebagai pemberi pembiayaan ekspor, tetapi juga fasilitator, akselerator, aggregator, hingga arranger. Semua peran itu dirangkai menjadi satu tujuan: mendorong kegiatan ekspor nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Salah satu wujud konkret dari mandat ini adalah program Desa Devisa, sebuah inisiatif yang mengidentifikasi dan mengembangkan desa, komunitas, atau klaster yang memiliki potensi produksi secara berkelanjutan. Tujuannya mengangkat produk lokal, seperti Kopi Liberika Meranti, agar tidak hanya hidup di pasar domestik, tetapi juga menembus kancah internasional.
Melalui kolaborasi antara LPEI, Kementerian Keuangan, dan Pemerintah Daerah, kegiatan ini dirancang untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Lebih jauh, program ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan kesejahteraan masyarakat desa, menciptakan ekspor yang berkelanjutan, dan mengukuhkan komoditas unggulan lokal sebagai tulang punggung ekonomi daerah.
Rantai yang dibangun pun tak putus di tengah jalan. Mulai dari supplier bahan baku, pelaku usaha mikro, hingga eksportir, semua dirangkul dalam satu ekosistem yang saling menopang. Desa tidak lagi sekadar produsen, melainkan mitra strategis dalam perdagangan global.
Program ini juga menekankan pentingnya komitmen, sinergi, dan kolaborasi lintas sektor. Sebab keberhasilan Desa Devisa bukan hanya ditentukan oleh kuatnya produk, tetapi juga eratnya jalinan kerja sama antara seluruh stakeholder: dari petani di ujung kebun hingga pemegang kebijakan di pusat.
Kini, dengan Desa Kedabu Rapat sebagai titik tolak, Kepulauan Meranti tak hanya menyumbang kopi yang nikmat, tetapi juga mengirimkan pesan bahwa desa bisa berdaya dan mendunia.
Desa Kedabu Rapat menjadi desa kedua di Kepulauan Meranti yang ditetapkan sebagai Desa Devisa. Sebelumnya, Desa Sungai Tohor lebih dulu dikenal lewat potensi sagunya, yang kini dikelola oleh lebih dari 6.000 petani di 16 desa di sekitarnya. Kapasitas produksinya mencapai 1.000 ton, dan terus tumbuh berkat penguatan kapasitas dan pengelolaan yang berkelanjutan.
Kini giliran kopi Meranti yang unjuk gigi. Kopi Liberika dari Kedabu Rapat memiliki karakteristik khas: aroma yang kuat, cita rasa yang unik, dan tumbuh di lahan gambut yang hanya sedikit dimiliki daerah lain. Komoditas ini dianggap menjanjikan sebagai produk unggulan ekspor.
Dengan pendampingan yang tepat, bukan tidak mungkin secangkir kopi dari tanah pesisir Meranti akan hadir di meja-meja kafe dunia. Program Desa Devisa bukan hanya menjual hasil bumi, tapi juga membangkitkan semangat masyarakat desa untuk naik kelas—dari penghasil lokal menjadi pemain global.
Di balik secangkir kopi yang harum, tersimpan cerita panjang tentang semangat petani, kolaborasi lembaga, dan tekad untuk menembus pasar global. Di Kepulauan Meranti, kopi Liberika bukan sekadar hasil bumi—ia adalah warisan rasa, budaya, dan kini harapan baru dalam geliat ekspor nasional.
Melalui program Desa Devisa Klaster Kopi, LPEI berkolaborasi dengan Kemenkeu Satu, menghadirkan pendampingan intensif bagi para petani kopi di Meranti. Program ini telah melibatkan lebih dari 1.040 petani, yang tersebar di sejumlah desa penghasil kopi di daerah pesisir ini.
CV Zaroha, pelaku usaha lokal, kini menjadi offtaker utama yang menjembatani hasil panen petani dengan pasar. Mereka juga membentuk koperasi guna memastikan kualitas, kesinambungan produksi, dan kepastian harga. Fokusnya jelas yakni menghasilkan kopi Liberika Meranti dengan standar ekspor.
Uniknya, jejak kopi Meranti ini telah jauh melampaui batas sejak lama. Sejak 1985, kopi Liberika dari Meranti sudah menarik perhatian konsumen Malaysia. Bahkan, sejak tahun 1990, sekitar 80 persen hasil panen kopi Meranti dipasarkan ke Negeri Jiran lewat jalur lintas batas. Tak heran, kopi ini menjadi ikon ekspor nonformal yang kini tengah diformalisasi lewat berbagai pelatihan dan sertifikasi.
Karakteristik kopi Liberika Meranti membuatnya berbeda yakni bentuk buah lebih besar, aroma lebih kuat, dan—yang paling menarik—kopi ini lebih bersahabat dengan lambung. Ditanam di tanah gambut yang kaya mineral, cita rasanya menjadi unik dan sangat khas, menjadikannya incaran pasar premium, baik dalam negeri maupun luar negeri.
Sebagai pengakuan atas keunikan dan kualitasnya, Kopi Liberika Rangsang Meranti telah memperoleh sertifikat Indikasi Geografis (IG) sejak 2016. Bahkan varietas lokalnya, Liberoit Komposit Meranti, telah dilepas sebagai varietas resmi nasional, memperkuat identitas kopi ini di kancah perkopian dunia.
Melalui kolaborasi ini, para petani tidak hanya mendapat pelatihan soal manajemen usaha, prosedur ekspor, dan manajemen koperasi, tetapi juga dibukakan akses terhadap pembiayaan dan pasar internasional. Inilah jalan yang perlahan tapi pasti, menuntun para petani kecil menuju panggung ekspor global.
Dengan kapasitas produksi 30 ton ceri merah per tahun, kopi Meranti kini mulai dipasarkan dalam bentuk green bean dengan harga Rp90.000–Rp120.000 per kilogram. Sementara kopi bubuknya dihargai hingga Rp300.000 per kilogram, mencerminkan kualitas dan nilai tambah yang tinggi.
Kopi Liberika mungkin hanya 1 persen dari produksi kopi dunia, tapi dari Kepulauan Meranti—kopi langka ini hadir sebagai simbol perlawanan terhadap keterbatasan, sekaligus cermin dari mimpi besar petani pesisir: bahwa dari tanah gambut pun bisa tumbuh kejayaan.
Di Kepulauan Meranti, cita rasa kopi bukan sekadar seduhan, tapi cermin dari mimpi dan perjuangan ribuan petani. Lewat program Desa Devisa, aroma khas biji kopi Meranti kini tengah disiapkan untuk menembus batas-batas dunia.
Program ini bukan sekadar inisiatif biasa. Bagi Kementerian Keuangan Regional I Riau, khususnya melalui Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Bengkalis, ini adalah bentuk nyata dari kolaborasi lintas lembaga untuk mengubah wajah perekonomian desa menjadi kekuatan ekspor yang membanggakan.
Hal tersebut disampaikan oleh Enriko, Kepala Kantor Bea Cukai Bantu Selatpanjang, dalam acara pendampingan dan dukungan terhadap komunitas petani kopi binaan Desa Devisa di Kepulauan Meranti.
“Program Desa Devisa adalah bentuk sinergi luar biasa antara pemerintah, lembaga keuangan, dan pelaku usaha. Ini bukan hanya tentang ekspor, tapi bagaimana membentuk eksportir baru yang memiliki daya saing dan melek keuangan,” jelas Enriko.
Menurutnya, peran Kemenkeu Regional I Riau dalam inisiatif ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga strategis. Lima direktorat jenderal di bawah Kementerian Keuangan—mulai dari Bea Cukai, Pajak, Perbendaharaan, Kekayaan Negara, hingga Perimbangan Keuangan—dibentuk dalam satu kolaborasi yang disebut Kelompok Kerja (Pokja) UMKM.
Pokja ini bertugas untuk membina dan mengawal para pelaku UMKM binaan, terutama mereka yang tergabung dalam skema Desa Devisa, agar siap menghadapi tantangan pasar global.
“Kopi Meranti ini bukan sembarang kopi. Ia tumbuh dari tanah gambut yang kaya, dirawat oleh tangan-tangan penuh cinta dari para petani lokal. Cita rasanya khas, memiliki nilai kearifan lokal yang tinggi—dan itu adalah keunggulan yang tak dimiliki kopi manapun di dunia,” ujar Enriko penuh semangat.
Kini, lebih dari 1.040 petani kopi dari berbagai wilayah di Meranti telah terlibat dalam program ini. Mereka tidak lagi sekadar menanam dan memanen, tapi mulai belajar soal ekspor, akses pasar, literasi keuangan, hingga standar mutu internasional.
Enriko juga mengapresiasi semangat community development yang inklusif dan berdampak langsung kepada masyarakat. Ia berharap sinergi ini terus dijaga oleh seluruh pihak—pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat akar rumput.
“Ini bukan hanya tentang kopi, ini tentang kemandirian. Tentang bagaimana kita menjadikan desa-desa penghasil kopi sebagai poros baru pertumbuhan ekonomi daerah berbasis ekspor,” tutupnya.
Aroma kopi Meranti kini tak hanya memenuhi cangkir-cangkir pagi di kampung halaman, tapi bersiap mengisi rak-rak etalase di berbagai penjuru dunia.
Dalam semangat kolaborasi dan pemberdayaan ekonomi desa, LPEI yang menghadirkan program Desa Devisa Kopi Liberika di Kabupaten Kepulauan Meranti ini menjadi titik balik bagi 7 desa penghasil kopi Liberika yang kini bersatu dalam koperasi untuk merajut masa depan lewat jalur ekspor.
Nilla Meiditha, Kepala Departemen Jasa Konsultasi LPEI, menyebutkan bahwa inisiatif ini bukan hanya langkah teknis, tetapi momentum bersejarah yang mencerminkan perjuangan para petani kopi dan sinergi multipihak—dari pemerintah provinsi, Pemkab Kepulauan Meranti, Kementerian Keuangan, hingga koperasi sebagai lembaga pendamping.
“Dengan semangat ini, kami berharap Desa Devisa Kopi benar-benar terwujud di Kepulauan Meranti. Ini bentuk nyata komitmen LPEI dalam meningkatkan kapasitas UMKM di sektor unggulan agar mampu menembus pasar ekspor,” ungkap Nilla.
Lebih lanjut Nilla mengungkapkan apa yang membuat kopi Liberika Meranti istimewa? Salah satunya karena ia tumbuh di lahan gambut. Kondisi ini justru menciptakan karakter rasa dan aroma yang khas—berbeda dari kopi yang tumbuh di lahan biasa. Tak hanya itu, kopi ini telah mengantongi Indikasi Geografis (IG), pengakuan resmi atas kualitas dan identitas lokal yang memberi nilai tambah di pasar global.
LPEI, sebagai bagian dari Kementerian Keuangan, melihat potensi besar dari kopi Meranti bukan hanya dari sisi produk, tapi juga sebagai sumber devisa baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Disebutkan, Desa Devisa Kopi Liberika menjadi yang ketiga di Provinsi Riau dan kedua di Kabupaten Kepulauan Meranti.
“Devisa bukan hanya untuk negara, tapi juga menjadi kunci kemandirian ekonomi masyarakat desa. Maka, penting bagi kita menciptakan lebih banyak desa devisa, seperti yang telah dilakukan untuk komoditas udang di salah satu desa di Bengkalis dan sagu di Sungai Tohor. Kini giliran kopi dari Kedabu Rapat,” lanjutnya.
Program ini juga didukung oleh survei dan kajian mendalam terhadap potensi ekspor. LPEI hadir bukan hanya sebagai pemberi modal atau pelatihan, tapi juga pendamping penuh dari hulu ke hilir—termasuk asistensi penyusunan dokumen ekspor, pelatihan negosiasi, dan penguatan jaringan pasar luar negeri dengan menghadirkan para expert yang telah berpengalaman di lapangan.
“Walau baru memulai, tapi jika ada kemauan pasti ada jalan. Kami percaya kopi Meranti bisa mendunia,” tegas Nilla.
Ia juga menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak, khususnya Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti, yang dinilai sangat serius dalam mendukung keberlanjutan program ini.
“Semoga kolaborasi ini terus berjalan berkesinambungan, memperluas jaringan ekspor, dan menjadikan kopi Liberika Meranti sebagai produk lokal yang dibanggakan dunia,” tutupnya.
Dari akar gambut yang dalam, kopi ini lahir sebagai harapan. Dan lewat program Desa Devisa, Meranti kembali membuktikan bahwa desa yang berada di beranda Indonesia, tepian Selat Malaka pun bisa menjadi pemain penting dalam perdagangan global.
Desa Devisa, Harapan Baru di Tengah Krisis Lapangan Kerja Meranti
Di bawah tenda sederhana di antara hamparan kebun kopi Liberika, hadir sebuah harapan yang lebih besar dari biji-biji kopi yang dijemur di bawah matahari. Harapan itu datang dari suara rakyat yang disuarakan oleh wakilnya—Al Amin, Anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, yang siang itu penuh semangat menyampaikan isi hatinya.
Ia menyambut baik program Desa Devisa Kopi Liberika yang digagas LPEI. Di balik sambutannya, tersirat sebuah kegelisahan lama yakni lapangan kerja yang sempit, dan ekonomi masyarakat yang rentan karena minimnya peluang usaha di kampung halaman sendiri.
"Dalam dada kami semangat garuda, tapi di perut hanya ringgit Malaysia," ucapnya, menggetarkan hati para hadirin. Sebuah metafora yang jujur, menggambarkan bagaimana selama ini banyak masyarakat Kepulauan Meranti menggantungkan hidup dengan merantau ke negeri jiran. Jika Malaysia suatu hari menutup pintunya, Meranti akan menghadapi lonjakan pengangguran.
Maka dari itu, kehadiran program seperti Desa Devisa bukan hanya soal ekspor kopi atau sagu. Bagi Al Amin, ini adalah peluang emas untuk membalik keadaan—menjadi tuan rumah di negeri sendiri, dan menciptakan kesejahteraan dari potensi yang ada di desa.
Ia menekankan pentingnya pembinaan berkelanjutan, bukan sekadar seremonial. Menurutnya, agar program ini sukses, perlu pengawasan, dukungan finansial, serta pandangan luas dari berbagai pihak agar tidak mati di tengah jalan.
“Kami di DPRD sangat berharap, Meranti bukan hanya ikut-ikutan, tapi bisa jadi percontohan bagi daerah lain, baik dalam pengembangan kopi maupun sagu,” tegasnya.
Dengan kolaborasi lintas sektor—pemerintah pusat, daerah, koperasi, dan lembaga pendamping—Al Amin yakin Desa Devisa bisa jadi solusi nyata, membuka lapangan kerja baru, dan menaikkan daya saing produk lokal di pasar global.
Ia menutup pernyataannya dengan ucapan penuh rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah mendorong program ini. Baginya, Desa Devisa adalah titik awal kebangkitan ekonomi desa, dan ia ingin melihat lebih banyak desa di Meranti menyusul jejak Sungai Tohor dan Kedabu Rapat.
"Teruskan perjuangan ini. Kami dari DPRD siap mengawal, karena ini bukan hanya tentang kopi, tapi tentang harapan ribuan keluarga Meranti," tuturnya.
Dari tanah gambut yang dulu hanya dikenal sebagai wilayah terpencil di pesisir Riau, kini Kepulauan Meranti mencatatkan babak baru dalam sejarah pembangunan ekonominya. Di bawah terik matahari dan semilir angin dari perkebunan kopi, hadir sebuah momentum yang lebih besar dari sekadar peresmian—peluncuran Desa Devisa Kopi Liberika Meranti.
Mewakili Bupati AKBP (Purn) H. Asmar, Staf Ahli Bidang Ekonomi Keuangan dan Pembangunan, Randolph Willy Hutauruk, menyampaikan sambutan penuh optimisme dan kebanggaan. Di hadapan para petani, tokoh masyarakat, serta mitra lembaga pendukung, ia menggambarkan bahwa Kepulauan Meranti sesungguhnya menyimpan potensi besar, baik dari sisi kekayaan alam maupun sumber daya manusianya.
Salah satunya adalah Kopi Liberika Meranti—komoditas yang telah lama tumbuh di tanah ini, namun baru kini benar-benar mendapat tempat yang pantas di panggung nasional, bahkan internasional.
“Hari ini, kita menyaksikan langkah strategis dan monumental. Peresmian Desa Devisa Kopi Liberika Meranti ini bukan hanya simbol keberhasilan, tapi juga momentum penting menuju kemandirian ekonomi desa, melalui penguatan ekspor berbasis komunitas,” ungkap Randolph.
Ia menjelaskan bahwa Desa Devisa merupakan program inovatif dari LPEI yang bertujuan mendorong pelaku UMKM untuk naik kelas. Tak hanya soal ekspor, tetapi juga bagaimana membangun mentalitas dagang global dari desa, lengkap dengan pendampingan, pelatihan, dan fasilitasi secara menyeluruh.
Menurutnya, peran pemerintah daerah tidak akan berhenti sampai di sini. Pemkab Kepulauan Meranti berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan sektor perkebunan, industri pengolahan, dan perluasan pasar, terutama terhadap komoditas-komoditas unggulan seperti kopi liberika.
“Kita ingin kopi Meranti bukan hanya dikenal karena rasanya, tetapi juga karena kualitas pengelolaannya, sistem kemitraan yang kuat, dan dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat.”
Randolph pun mengajak masyarakat Desa Kedabu Rapat dan sekitarnya untuk tidak hanya menjaga kualitas, tapi juga membangun kelembagaan usaha yang solid, agar bisa bertahan dalam persaingan pasar global yang semakin kompetitif.
Ucapan terima kasih ia sampaikan kepada LPEI, serta semua pihak yang telah menggerakkan langkah ini hingga nyata di lapangan. Ia berharap, Desa Devisa ini menjadi cikal bakal kesuksesan lain di sektor pertanian dan industri rakyat, serta dapat menginspirasi desa-desa lain di Meranti.
Dengan harapan dan semangat yang tertanam kuat di hati para petani, Desa Devisa Kopi Liberika kini bukan lagi mimpi, tapi jejak nyata dari kolaborasi, keyakinan, dan kerja keras bersama. (R-01)

