Api Dalam Gambut Kembali Menyala, Karhutla Tanjung Peranap Meluas Jadi 120 Hektare
Memasuki hari ke-10, upaya pemadaman dan pendinginan terus dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD, hingga para relawan desa. Foto : Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS, Selatpanjang - Di tengah teriknya matahari yang menyengat dan kepulan asap yang menggantung pekat di udara, semangat para petugas tak pernah surut. Di kawasan Tanjung Peranap, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, mereka terus berjibaku melawan ganasnya api yang telah melahap hutan dan lahan selama lebih dari sepekan.
Memasuki hari ke-10, upaya pemadaman dan pendinginan terus dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD, hingga para relawan desa. Namun, perjuangan itu justru menemui tantangan baru.
Senin, 28 Juli 2025, di hari ke-11 sejak kebakaran pertama kali terjadi, api yang sebelumnya sudah mulai mereda justru kembali membesar. Angin kencang dengan kecepatan 8 kilometer per jam meniup bara di dalam gambut, membuat lidah api menjalar cepat membakar vegetasi semak belukar dan kebun warga.
Kebakaran yang semula hanya mencakup 50 hektare, kini meluas drastis menjadi lebih dari 110 hektare. Bahkan, lahan kebun milik warga pun tak luput dari amukan si jago merah, kebakaran kembali meluas 10 hektare sehingga total luasan terdampak kini telah menembus angka 120 hektare.
Kondisi ini menggambarkan betapa rumit dan sulitnya memadamkan api di lahan gambut. Api bisa saja padam di permukaan, tapi bara di bawah tanah terus menyala, menunggu momen untuk kembali menyembur.
Para petugas tetap siaga. Peluh dan lelah tak terlihat menyurutkan langkah mereka. Di tengah bau asap yang menyengat, langkah demi langkah diambil—demi menyelamatkan hutan, kebun, dan asa warga Tanjung Peranap.
Awalnya, medan yang berat dan minimnya sumber air menjadi tantangan besar dalam proses pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Tanjung Peranap, Kecamatan Tebingtinggi Barat itu. Namun, semangat tak pernah surut. Dibantu oleh pihak perusahaan , sebanyak 21 embung air berhasil dibuat menggunakan alat berat yang diturunkan beberapa hari sebelumnya.
Embung-embung ini menjadi titik balik dalam perjuangan melawan api. Di tengah ladang yang menghitam dan panas yang menyengat, embung itu ibarat oase yang memberi nafas baru bagi para petugas yang nyaris kehabisan sumber air. Satu per satu api berhasil diredam, satu titik demi satu titik lahan diselamatkan.
Namun kali ini, tantangan kembali menghadang. Petugas gabungan kembali harus menempuh jarak yang cukup jauh dengan berjalan kaki ke lokasi titik api. Mereka harus menembus semak belukar dan vegetasi yang lebat, sambil membawa peralatan pemadaman. Di sisi lain, sumber air berada cukup jauh dari lokasi kejadian, membuat distribusi air menjadi lebih rumit.
Cuaca juga tak bersahabat. Suhu di lokasi sangat panas, ditambah tiupan angin kencang yang berpotensi kembali menghidupkan bara yang tersembunyi di dalam gambut. Asap tebal memenuhi kawasan, membuat jarak pandang terbatas dan meningkatkan risiko keselamatan para petugas.
Meski begitu, kerja keras itu mulai membuahkan hasil. Secara umum, api telah berhasil dipadamkan. Kini, fokus petugas beralih ke proses pendinginan dan pembuatan sekat bakar atau blok-blok pembatas untuk mencegah api kembali menjalar. Upaya ini terus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.
Situasi terakhir di lapangan menunjukkan bahwa api telah padam. Namun perjuangan belum selesai—sebab, di lahan gambut, bahaya selalu mengintai dari dalam tanah yang menyimpan bara. Itulah sebabnya, proses pendinginan terus digencarkan.
Perjuangan ini bukan sekadar memadamkan api, tetapi juga menjaga harapan, menyelamatkan ekosistem, dan melindungi masa depan masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan.
Di tengah panasnya bara dan kepulan asap yang masih menyelimuti langit Tanjung Peranap itu semangat para petugas tak juga padam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kepulauan Meranti mengerahkan kekuatan penuh, memperkuat barisan garda terdepan dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang masih menyisakan bara di dalam gambut.
"Kemarin kita memang standby-kan anggota untuk membantu pendinginan di lapangan. Ada 10 orang dari BPBD dan 2 personel tambahan dari Basarnas. Namun saat ini, ketika api kembali menyala, kita tambah personel menjadi 12 orang, ditambah Polri 8 orang, pihak perusahaan PT ITA 6 orang, MPA 9 orang, dan TNI 3 orang," ujar Sekretaris BPBD Meranti, Eko Setiawan.
Kondisi cuaca memang tidak bersahabat. Angin kencang yang terus berhembus membuat upaya pemadaman semakin kompleks. Tim gabungan kini difokuskan untuk melakukan pendinginan guna memastikan tidak ada lagi bara yang tersembunyi di dalam lapisan gambut.
"Setelah berjuang memadamkan api yang kembali menyala, kini kita fokus pada pendinginan. Tantangan terbesar kemarin adalah mencari titik air. Tapi dengan adanya embung-embung yang telah dibuat, upaya pemadaman bisa lebih maksimal," tambah Eko.
Di lapangan, semangat gotong-royong menjadi kekuatan utama. Petugas dari BPBD, TNI, Polri, relawan, Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga warga sekitar masih terus menyisir setiap jengkal lahan, memastikan tak ada titik api yang luput dari perhatian.
Namun perjuangan fisik ini juga dibarengi dengan pesan moral yang kuat. Eko mengimbau keras masyarakat untuk tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar.
"Apapun alasannya, pembakaran lahan bukanlah solusi. Risiko dan dampaknya terlalu besar. Kita tidak ingin kebakaran seperti ini terus terjadi hanya karena kelalaian atau keputusan sesaat," tegasnya.
Tanjung Peranap kini tak hanya menjadi medan pertempuran melawan api, tapi juga simbol kekuatan solidaritas. Di sini, petugas dan masyarakat berdiri bersama, saling bahu-membahu melindungi hutan, kebun, dan kehidupan dari ancaman yang membara. (R-04)

