Empat Varietas Durian Kepulauan Meranti Diakui Nasional, Namun Sertifikasi Masih Tertunda Karena Anggaran
Pohon-pohon Durian di Desa Bokor berumur ratusan tahun menjulang tinggi. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Desa Bokor, di Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, tak hanya menyuguhkan bentang alam yang menawan seperti sungai dan hutan Mangrove tapi juga menyimpan potensi agrowisata yang luar biasa. Di tanah yang subur dan tenang ini, durian tumbuh dengan begitu sempurna, menjadikan desa ini layak dijuluki sebagai “desa surga durian”.
Tak seperti daerah lain yang mulai tergerus modernisasi, Desa Bokor tetap teguh menjaga keasriannya. Suara kendaraan besar nyaris tak terdengar, digantikan oleh nyanyian burung dan desir angin yang menyapu daun-daun rimbun. Atmosfer tenang ini menjadikan pengalaman menyantap durian di Bokor terasa lebih khidmat—antara alam, rasa, dan suasana menyatu dalam harmoni.
Bokor bukan hanya tentang durian. Kebun-kebun buah lainnya turut menghiasi lanskap desa—rambutan, manggis, cempedak, kelapa. Namun dari sekian banyak buah tropis yang tumbuh di tanah yang kaya unsur hara ini, durian tembage dari Bokor seakan jadi bintang utama. Daging buahnya tebal, lembut, dan manis legit dengan aroma khas yang langsung menari di hidung. Banyak pecinta durian menyebut rasanya tak kalah dengan durian montong dari daerah lain di Indonesia, bahkan cenderung lebih menggoda karena dimakan langsung di tempat asalnya yang sejuk dan alami.
"Kalau sudah sekali mencicip durian Bokor, pasti ingin kembali lagi," ujar seorang pengunjung dari Pekanbaru yang datang bersama keluarganya hanya untuk berburu durian langsung dari kebunnya.
Musim durian menjadi momen istimewa di desa ini. Kebun-kebun yang semula sunyi mendadak hidup, disambangi para pencinta durian dari berbagai daerah. Beberapa datang jauh-jauh hanya untuk menikmati sensasi makan durian langsung di bawah pohon sambil berbincang santai dengan pemilik kebun yang ramah dan bersahaja.
Tak jarang, para petani lokal pun membuka kebun mereka untuk wisatawan. Duduk di tikar dalam pondok sederhana, ditemani buah buahan lainnya atau disajikan kopi ala kampung, pengunjung bisa memilih sendiri durian yang jatuh pagi itu dan langsung menyantapnya. Di situlah letak kenikmatan yang tak dijual di supermarket atau restoran besar: rasa yang jujur, pengalaman yang tulus, dan hubungan antara manusia dengan alam yang begitu dekat.
Kini, Bokor perlahan mencuri perhatian sebagai destinasi agrowisata unggulan Kepulauan Meranti. Potensi ini menjadi harapan baru bagi masyarakat desa untuk terus mengembangkan sektor perkebunan dan pariwisata berbasis lokal.
Karena sejatinya, durian Bokor bukan hanya buah, namun ia adalah cerita, adalah warisan, dan berkah yang mengalir dari akar pohon ke kehidupan warganya.
Di Desa Bokor, pohon-pohon durian menjulang, sebagian sudah berumur puluhan hingga ratusan tahun, dengan buah menggantung lebat seperti emas hijau yang siap dipanen.
Namun, di balik kemeriahan musim durian ini, ada pemandangan yang tak biasa. Setiap kebun durian nyaris pasti menyimpan sebuah rahasia diam-diam: makam. Ya, di bawah pohon-pohon rindang itu, di antara semak dan tanah yang menguning oleh dedaunan gugur, terbaring sunyi pusara-pusara tua. Ada yang bertuliskan nama, ada pula yang hanya ditandai batu nisan sederhana.
Ini bukan kebetulan, bukan pula sekadar tempat yang dipilih karena lahannya luas. Ini adalah bentuk wasiat, pesan dari orang-orang terdahulu. Mereka meminta agar ketika ajal menjemput, tubuh mereka dikembalikan ke kebun—kebun yang mereka rawat seumur hidup—agar tak dijual, agar tetap diwariskan, agar tetap menjadi sumber rezeki anak cucu.
“Kalau sudah ada kuburan di kebun, siapa pula yang tega menjualnya?” ujar seorang warga tua di Bokor. Ucapan itu singkat, namun menyimpan makna dalam: soal ikatan, soal cinta, dan soal kepemilikan yang tak semata materi.
Di Bokor, ada pohon durian yang sudah berdiri sejak sebelum Indonesia merdeka. Tua, tinggi, dan berbuah lebat saban tahun. Pohon itu, kata pemiliknya, ditanam oleh nenek moyang mereka yang kini jasadnya disemayamkan tak jauh dari akar pohon tersebut.
Tak banyak yang tahu, di balik lebatnya kebun durian dan harum semerbak musim raja buah di Kepulauan Meranti, tersimpan fakta membanggakan : empat jenis durian lokal asli daerah ini telah mendapatkan sertifikat tanda daftar varietas tanaman dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Empat varietas itu ialah Calung Meranti, Blewah Meranti, Kacang Pui Meranti, dan Tembage Meranti. Semuanya merupakan hasil kekayaan hayati asli dari Kabupaten Kepulauan Meranti, yang tumbuh subur di tanah-tanah kampung, khususnya dari Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat, tempat pertama kalinya pohon induk durian tersebut ditemukan dan dibudidayakan secara alami oleh warga.
Pengesahan ini datang dari Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) Kementerian Pertanian tahun 2018 silam. Sertifikat tersebut tak sekadar selembar dokumen, melainkan bentuk pengakuan negara atas kekayaan genetik daerah yang telah diwariskan turun temurun.
Masih ada dua jenis durian lokal lainnya, yaitu Durian Pejantan dan Kesep Meranti, yang kini masih dalam proses pengajuan sertifikasi.
Salah satu penggiat Durian di Desa Bokor, Fadli menyatakan dirinya bersama warga lainnya menyambut kabar ini dengan rasa bangga. Betapa tidak, selama ini mereka menanam, merawat, dan menikmati hasil durian tersebut sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari tanpa pernah menyangka bahwa tanaman yang tumbuh dari kebun belakang rumah itu ternyata bernilai nasional.
"Sertifikasi ini menjadi langkah awal untuk mengangkat nama Kepulauan Meranti sebagai salah satu pusat durian lokal unggulan di Indonesia," ujarnya.
Dengan adanya pengakuan ini, peluang untuk pengembangan ekonomi lokal berbasis agrowisata dan produk turunan durian menjadi semakin terbuka. Sertifikasi varietas tak hanya menambah nilai jual buah, tapi juga memperluas akses pasar ke luar daerah bahkan luar negeri.
Durian di Kepulauan Meranti, kini bukan lagi sekadar cerita dari kampung—melainkan identitas, warisan, dan potensi ekonomi yang siap dikembangkan. Pemerintah daerah pun diharapkan turut mendorong inovasi dari hulu ke hilir, mulai dari pembibitan, pengemasan, promosi, hingga festival durian berskala nasional.
Dari desa kecil bernama Bokor, harum durian Meranti kini mulai merebak hingga ke meja kementerian. Ini bukti bahwa kearifan lokal, bila dirawat dan dihargai, akan berbuah pengakuan dan kesejahteraan.
Di Balik Sertifikasi Durian Meranti: Kisah Fadli dan Mimpi yang Tertunda
Di balik pengakuan empat varietas durian lokal Kepulauan Meranti yang kini telah mengantongi sertifikat resmi dari Kementerian Pertanian, tersimpan cerita seorang putra daerah yang pernah turut merintis langkah besar itu—Fadli, warga Desa Bokor yang menjadi salah satu pelopor dalam proses pembibitan dan penangkaran durian bersertifikat.
Fadli berkisah, dirinya pernah dipercaya untuk mengikuti pelatihan dan pendalaman di Balai Penelitian Buah Tropika di Solok, Sumatera Barat, sebuah lembaga yang menjadi rujukan nasional dalam pengembangan buah unggulan. Di sanalah ia belajar banyak tentang teknik pembibitan, identifikasi varietas, hingga bagaimana membangun sistem penangkaran yang benar sesuai kaidah ilmiah.
Sepulang dari pelatihan, Fadli memulai langkah besar. Dirinya dipercaya oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kepulauan Meranti membangun pembibitan durian lokal yang telah bersertifikasi di kampung halamannya, Desa Bokor. Ia menyambut antusias pengakuan atas varietas seperti Calung, Blewah, Kacang Pui, dan Tembage Meranti yang telah tercatat resmi oleh Kementerian Pertanian.
Namun sayangnya, semangat itu perlahan terhenti. Program penangkaran yang menjanjikan itu kandas di tengah jalan—terbentur kendala klasik: biaya dan anggaran yang digelontorkan oleh OPD terkait.
“Kita sempat sudah jalankan separuh jalan. Tanda daftar varietas sudah keluar, deskripsi varietas juga sudah selesai. Tapi untuk izin edar terhenti. Karena dianggap terlalu lama berhenti, pihak kementerian menyebut kita tidak konsisten,” ungkap Fadli lirih.
Kini, jika ingin melanjutkan proses tersebut, ia harus memulai lagi dari titik tertentu. “Harus panggil peneliti dari pusat lagi, untuk verifikasi lapangan. Proses dan biayanya tentu tidak dimulai dari awal,” tambahnya.
Kisah Fadli adalah gambaran nyata bagaimana semangat dan potensi lokal seringkali tersandung oleh minimnya dukungan berkelanjutan. Di tengah deretan durian lezat yang menggantung di pohon-pohon tua di Desa Bokor, mimpi untuk menjadikan durian Meranti sebagai ikon nasional justru terhambat bukan karena kualitas, tapi karena tiadanya perhatian berkelanjutan dari para pemangku kebijakan.
Apa yang dilakukan Fadli bukan semata demi reputasi, tetapi demi masa depan pertanian lokal dan kesejahteraan masyarakat. Penangkaran durian, jika dikelola dengan baik, dapat membuka lapangan kerja, menjadi sumber ekonomi baru, bahkan memperkuat citra Meranti sebagai pusat durian unggulan dari pesisir timur Sumatra.
Kini, harapan itu belum padam. Ia menanti dukungan, bukan sekadar janji. Agar pohon-pohon durian bersertifikat itu tak hanya berdiri sebagai kebanggaan sejarah, tapi juga menjadi warisan ekonomi berkelanjutan untuk generasi mendatang.
Di antara rimbun pepohonan dan aroma khas durian yang menyengat manis, Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat, menyimpan harta karun yang tak ternilai: durian-durian lokal berusia ratusan tahun yang kini telah mendapat pengakuan resmi dari negara.
Adalah Ifwandi, SP, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kepulauan Meranti, yang juga menyampaikan kabar membanggakan tersebut. Ia menjelaskan bahwa proses observasi dan eksplorasi varietas durian di desa ini dilakukan secara menyeluruh. Bersama tim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mereka turun langsung melakukan karakterisasi, mulai dari bentuk daun, bunga, hingga rasa daging buah.
“Hasil dari pengamatan menunjukkan bahwa empat varietas durian ini—Kacang Pui, Calung, Tembage, dan Blewah—tidak ditemukan di daerah lain. Maka pada tahun 2018, Kementerian Pertanian resmi menerbitkan tanda daftar varietas tanaman sebagai pengakuan bahwa keempat varietas tersebut asli milik Meranti,” ujar Ifwandi.
Namun di balik kabar baik itu, ada pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan. Sertifikasi itu, meski sudah diakui, belum memberikan manfaat maksimal karena proses lanjutannya terhenti. Kendalanya? Lagi-lagi soal anggaran dan keberlanjutan program.
“Karena lama tidak dilanjutkan, Kementerian menyebut prosesnya tidak konsisten. Padahal jika dilanjutkan, kita bisa mendorong masyarakat memperbanyak bibitnya. Ini bukan hanya tentang kebanggaan, tapi juga peluang ekonomi,” tuturnya.
Ifwandi menekankan pentingnya penangkaran dan pelepasan varietas agar durian Meranti bisa dipesan dari luar daerah secara legal dan resmi, serta menjadi ikon kebanggaan daerah. Dengan demikian, Meranti bisa menjual bukan hanya buahnya, tapi juga nilai tambah dari varietas lokal yang terdaftar.
“Inilah inovasi yang sebenarnya. Kadang inovasi bukan tentang menciptakan hal baru, tapi menyadari nilai dari sesuatu yang telah lama ada di sekitar kita. Durian Meranti adalah kekayaan alam kita. Sayang kalau tidak kita jaga dan kembangkan,” tambahnya.
Durian lokal Meranti kini bukan sekadar buah musiman yang dinikmati di kebun-kebun tua. Ia telah menjelma menjadi ikon identitas, simbol warisan, dan harapan ekonomi baru bagi masyarakat pesisir. Tapi untuk benar-benar mewujudkannya, daerah ini perlu komitmen dan dukungan nyata, bukan sekadar pengakuan di atas kertas. (R-01)

