Terang Itu Akhirnya Datang: Setelah Bertahun Menanti, Listrik di Desa Tanjung Kedabu Kini Normal Kembali
Pemerintah desa dan kecamatan bersama PLN, melakukan perbaikan menyeluruh dilakukan terhadap jaringan listrik di Tanjung Kedabu, termasuk penggantian komponen yang rusak dan pemasangan ulang trafo yang baru. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Di ujung utara Kepulauan Meranti, tepatnya di Desa Tanjung Kedabu, Kecamatan Rangsang Pesisir, suara takbir kecil dan rasa syukur menggema dari rumah ke rumah. Bukan karena lebaran, tapi karena satu kabar gembira yang sudah lama dinanti, dimana listrik di desa itu akhirnya kembali normal.
Selama bertahun-tahun, masyarakat Desa Tanjung Kedabu hidup dalam keterbatasan energi. Kerusakan trafo di desa itu menyebabkan pasokan listrik yang tak stabil. Sebagai solusi sementara, pihak PLN menumpangkan beban listrik ke trafo terdekat. Namun itu bukan jawaban yang sempurna—sebab aliran yang diterima warga hanya berkisar di angka 150-180 volt, jauh di bawah standar 220-230 volt yang seharusnya.
“Kulkas hanya bisa nyala kalau AC dimatikan. Mesin cuci jalan sebentar lalu mati. Bahkan untuk menyalakan lampu saja kadang harus bergiliran,” ujar Syarifah, warga setempat yang menyimpan pengalaman bertahun-tahun hidup dengan listrik seadanya.
Listrik yang seharusnya menjadi urat nadi kehidupan modern, di sini justru menjadi barang mewah. Anak-anak harus belajar dengan penerangan redup, warung-warung tak bisa menyimpan barang dingin, dan peralatan rumah tangga mudah rusak karena voltase tak stabil.
Namun kini semuanya berubah. Setelah upaya dan koordinasi yang dilakukan oleh pemerintah desa dan kecamatan bersama PLN, perbaikan menyeluruh dilakukan terhadap jaringan listrik di Tanjung Kedabu, termasuk penggantian komponen yang rusak dan pemasangan ulang trafo yang baru.
Petugas PLN yang datang ke desa itu menjadi tamu yang disambut dengan senyum dan harapan. Dalam waktu beberapa hari saja, semua jaringan diperiksa, trafo diganti, dan tegangan listrik kembali ke angka normal: 220 hingga 230 volt.
“Alhamdulillah, sekarang kipas angin, rice cooker, kulkas, semua bisa jalan bersamaan. Tidak seperti dulu yang harus memilih satu-satu. Terimakasih kami ucapkan kepada. PLN,” ucap Pak Iskandar, warga lainnya sambil memperlihatkan voltmeter miliknya yang kini menunjukkan angka stabil.
Bagi warga desa yang sebagian besar berprofesi sebagai petani dan nelayan, kembalinya listrik bukan sekadar soal penerangan. Ini soal masa depan—anak-anak mereka bisa belajar dengan lebih baik, pelaku UMKM bisa memproduksi barang lebih maksimal, dan keluarga bisa hidup lebih nyaman.
Camat Rangsang Pesisir, dalam keterangannya, menyebut bahwa perjuangan ini memakan waktu cukup panjang karena keterbatasan teknis dan administratif. Namun berkat kolaborasi antara warga, pemerintah, dan PLN, semua bisa diselesaikan dengan baik.
“Kita tidak ingin ada desa yang tertinggal dalam pelayanan dasar seperti listrik. Ini adalah hak mereka, dan kita harus terus memastikan setiap jengkal tanah dia Kepulauan Meranti tepatnya di Pulau Rangsang ini bisa terang seperti daerah lainnya,” tegasnya.
Kini, malam-malam di Tanjung Kedabu tak lagi redup. Tapi terang lampu yang menyala serentak dari rumah ke rumah. Terang yang bukan hanya dari listrik, tapi juga dari harapan baru. Karena setelah redup yang panjang, terang itu akhirnya datang.
Gerobak Kayu dan Travo 400 Kilo: Ikhtiar PLN Menyalakan Asa di Ujung Meranti
Di balik terang yang kini menyinari rumah-rumah warga Desa Tanjung Kedabu, tersimpan kisah sunyi yang tak banyak diketahui, yakni sebuah travo seberat 400 kilogram, yang dipikul bukan oleh alat berat, tetapi oleh semangat pelayanan—ditarik perlahan menggunakan gerobak kayu, menembus jalan-jalan rusak dan berlumpur.
Kepala ULP PLN Selatpanjang, Dalie Priasmoro, adalah sosok di balik layar upaya ini. Ia baru menjabat, namun warisan persoalan langsung menantangnya: travo 50 kV di salah satu wilayah pelanggan PLN rusak berat, menyebabkan listrik bertegangan rendah selama bertahun-tahun. Warga tak bisa menyalakan peralatan rumah tangga dengan normal. Anak-anak belajar dengan lampu remang. Pedagang tak mampu menyimpan dagangan beku. Keseharian warga menjadi serba terbatas.
Namun PLN tidak tinggal diam. Dalie dan timnya merespons cepat keluhan masyarakat. Manuver beban dilakukan, dan relokasi trafo dari lokasi lain pun disiapkan.
“Travo pengganti ini beratnya sekitar 400 kilogram. Karena kondisi akses jalan yang sempit dan belum bisa dilalui kendaraan besar, kami gunakan gerobak kayu untuk membawanya ke titik lokasi. Ini perjuangan, tapi juga komitmen kami untuk memberikan layanan terbaik," ujar Dalie.
Proses itu tidak hanya soal mengganti perangkat. Dalie menyebut, yang dilakukan adalah bagian dari program pemeliharaan berkelanjutan yang ditujukan untuk meningkatkan keandalan pasokan listrik. Dalam dunia kelistrikan, keandalan adalah segalanya. Ia yang membedakan antara nyala lampu yang hanya sebentar dan terang yang konsisten menemani malam warga.
“Setiap hari kami memantau kondisi aset-aset kelistrikan di lapangan. Kalau ditemukan potensi gangguan, kami bergerak lebih dulu sebelum warga terganggu,” jelasnya.
Soal lamanya proses perbaikan, Dalie menjelaskan bahwa dirinya masih dalam masa awal tugas, dan saat ini juga tengah melakukan inventarisasi terhadap kondisi teknis dan infrastruktur kelistrikan yang ada di wilayahnya.
Kini, dengan travo baru yang sudah terpasang, tegangan listrik di Desa Tanjung Kedabu kembali normal. Rumah-rumah mulai hidup lagi, bukan hanya dari segi pencahayaan, tapi juga dari denyut ekonomi kecil yang mulai bergerak: kulkas berdengung kembali, mesin cuci berputar, dan anak-anak bisa mengerjakan PR dengan penerangan yang layak.
PLN menyadari bahwa kebutuhan listrik akan terus meningkat, seiring naiknya taraf hidup masyarakat. Maka dari itu, penguatan infrastruktur dan penambahan kapasitas jaringan menjadi prioritas.
“Kami ingin memastikan, apa pun aktivitas masyarakat—entah itu belajar, bekerja, berdagang, atau beribadah—tidak terganggu oleh masalah kelistrikan,” tutup Dalie.
Kisah travo 400 kilogram dan gerobak kayu ini mungkin tak masuk berita utama nasional. Tapi bagi masyarakat Tanjung Kedabu, itulah bukti nyata bahwa mereka tak dilupakan. Bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada pihak yang mau berjuang—dengan tangan kotor, peluh menetes, dan semangat pelayanan yang menyala, untuk membawa terang ke tempat yang telah lama menanti. (R-01)

