Respons Cepat dan Empati Bupati Kepulauan Meranti Tinjau Langsung Lokasi Kebakaran dan Janji Bangun Kembali MDA Al-Muhtadin
Bupati Kepulaun Meranti tinjau lokasi kebakaran Sekolah MDA Al-Muhtadin. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Suasana pagi menjelang siang di Jalan Rintis, Selatpanjang, Rabu (18/6/2025), diselimuti duka dan keprihatinan. Sebuah bangunan sederhana yang selama ini menjadi tempat menimba ilmu agama bagi anak-anak, Sekolah MDA Al-Muhtadin, hangus dilalap api pada Rabu (11/6/2025) lalu sekitar pukul 16.30 WIB.
Langit mendung di atas Jalan Rintis, Rabu (18/6/2025), seolah ikut berduka menyaksikan puing-puing bangunan Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Al-Muhtadin yang kini hanya tersisa arang dan abu. Tempat belajar yang selama ini menjadi benteng ilmu agama bagi anak-anak Desa Teluk Belitung itu, luluh lantak oleh si jago merah yang diduga berasal dari korsleting listrik.
Gedung yang selama ini menjadi cahaya ilmu bagi generasi muda Kepulauan Meranti itu, kini hanya tersisa puing dan kenangan.
Namun di balik kepedihan yang menggulung hari itu, hadir sosok pemimpin yang tidak hanya datang membawa simpati, tapi juga menawarkan solusi dan harapan.
Bupati Kepulauan Meranti, AKBP (Purn) H. Asmar, turun langsung meninjau lokasi, menyaksikan dari dekat dampak musibah yang mengguncang hati masyarakat. Ia memastikan bahwa musibah ini tidak menjadi titik akhir. Ia berbicara bukan hanya sebagai kepala daerah, tapi sebagai ayah bagi masyarakatnya, yang peduli akan masa depan generasi muda.
Didampingi Kapolres Kepulauan Meranti AKBP Aldi Alfa Faroqi, SH, S.I.K, MH, Ketua DPRD H. Khalid Ali, serta sejumlah pejabat daerah seperti Kasatpol PP Damkar Wan Zulkifli, Kadis PUPR Fajar Triasmoko, MT, dan jajaran teknis lainnya, Bupati Asmar menyimak langsung penjelasan terkait penyebab kebakaran.
Dari informasi awal yang disampaikan oleh Kapolres dan diperkuat oleh pengurus sekolah, api diduga berasal dari korsleting listrik. Tak butuh waktu lama, respons cepat pun langsung diberikan.
“InsyaAllah akan kita prioritaskan. Jika anggaran memungkinkan, sekolah akan dibangun kembali tahun ini. Untuk sementara, anak-anak bisa belajar di masjid. Kami akan bantu penyediaan meja belajarnya,” ujar Bupati Asmar dengan nada penuh ketegasan dan empati.
Tindakan Nyata, Bukan Sekadar Kunjungan Simbolis
Dalam tinjauan tersebut, Bupati langsung menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk berkoordinasi dengan Kementerian Agama, guna mempercepat proses hibah lahan dan perencanaan pembangunan gedung baru.
Langkah cepat ini menjadi bukti nyata bahwa pemerintah daerah tidak membiarkan pendidikan terhenti meski di tengah musibah. Komitmen itu sekaligus mempertegas bahwa dunia pendidikan, termasuk pendidikan agama, menjadi perhatian utama kepemimpinan Asmar selama ini.
Ia menambahkan bahwa Pemkab Kepulauan Meranti tetap berkomitmen membangun kembali gedung sekolah tersebut, namun pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kondisi keuangan daerah.
“Kita tetap usahakan pembangunan gedung baru MDA Al-Muhtadin, tapi perlu koordinasi dengan Kemenag terlebih dahulu. Kami juga harus melihat kekuatan anggaran daerah sebelum merealisasikannya,” tutur Bupati.
Dia mengatakan pemerintah kabupaten akan membantu semaksimal mungkin agar gedung sekolah yang terbakar itu, bisa kembali dipakai untuk kegiatan belajar agama bagi anak-anak.
"Saya sudah perintahkan Kepala Dinas PUPR untuk koordinasi dengan Kemenag, guna mencari solusi. Karena untuk MDA itu ada yang di bawah naungan Kemenag," ujarnya lagi.
MDA Al-Muhtadin bukan sekadar bangunan. Di dalamnya tumbuh generasi muda yang belajar nilai-nilai agama, moral, dan kebangsaan. Ketika bangunan itu hangus, bukan hanya tembok yang roboh, tetapi semangat belajar anak-anak pun nyaris ikut runtuh.
Namun harapan kembali menyala ketika pemerintah hadir secara nyata. Tindakan cepat dan sikap empatik yang ditunjukkan Bupati Asmar menjadi pelipur lara bagi para guru, wali murid, dan seluruh masyarakat sekitar.
Tidak hanya menyampaikan komitmen pembangunan, Bupati juga menawarkan solusi konkret jangka pendek, yakni pemanfaatan masjid sebagai ruang belajar sementara, lengkap dengan bantuan fasilitas belajar seperti meja dan perlengkapan lainnya (R-01)

