4 Unit Mesin Alami Kerusakan, PLN Selatpanjang Terpaksa Terapkan Pemadaman Bergilir dan Petugas Berjibaku Atasi Krisis Daya
Pemadaman listrik di Kepulauan Meranti. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Empat unit mesin Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di ULP PLN Selatpanjang yang selama ini menjadi tulang punggung suplai listrik di wilayah tersebut kini dalam kondisi tidak optimal. Gangguan teknis yang terjadi membuat operasional mesin-mesin itu terganggu, dan langsung berdampak pada pasokan daya ke pelanggan.
Namun di balik itu, ada upaya tanpa henti dari para teknisi PLN yang tengah berjibaku menghadapi krisis daya listrik yang terjadi sejak beberapa hari terakhir.
Kepala ULP PLN Selatpanjang, Dalie Priasmoro, menyampaikan bahwa kondisi ini menyebabkan defisit daya yang cukup signifikan. Dalam situasi normal, total daya mampu dari seluruh mesin PLTD yang beroperasi mencapai 13,2 Megawatt. Namun akibat kerusakan yang terjadi, daya yang bisa disalurkan hanya sebesar 11,2 Megawatt. Sementara prediksi beban puncak di Selatpanjang dan sekitarnya yang juga mencangkup wilayah Kecamatan Tebingtinggi Barat dan Kecamatan Pulau Merbau bisa menyentuh angka 12,8 Megawatt — artinya terjadi kekurangan daya sebesar 1,6 Megawatt.
“Gangguan ini cukup berdampak, terutama pada malam hari. Untuk mengantisipasi hal yang lebih besar, kami harus melakukan pemadaman bergilir di jam-jam kritis, antara pukul 18.00 hingga 22.00 WIB,” jelas Dalie.
Meski terdengar sederhana, pemadaman bergilir bukan keputusan ringan. PLN harus menyesuaikan waktu padam dengan zona pelanggan agar dampaknya tidak terlalu luas. Di sisi lain, tim teknis yang bertugas di lapangan bekerja siang malam untuk mempercepat proses perbaikan, berharap mesin-mesin PLTD bisa kembali beroperasi penuh dalam waktu dekat.
“Semua sumber daya sedang kami kerahkan. Kami mohon maaf dan pengertian masyarakat atas ketidaknyamanan ini. Tujuan kami hanya satu yakni menstabilkan kembali kelistrikan di wilayah ini secepat mungkin,” tambahnya.
Namun di tengah kegelapan yang datang tak diundang, masih ada upaya yang terus menyala. Di ruang teknisi PLN, orang-orang berseragam biru tetap bekerja tanpa kenal waktu. Mereka berharap seperti masyarakat yang menunggu terang bahwa gangguan ini segera teratasi.
Di balik lampu-lampu yang padam sementara, ada cerita ketangguhan. Para teknisi PLN yang tetap bekerja meski malam larut, masyarakat yang bersabar menunggu listrik kembali menyala, dan harapan bahwa gangguan ini segera berakhir.
Di balik suasana yang muram, ada kenyataan teknis yang tak mudah, dimana ada empat unit mesin Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Kabupaten Kepulauan Meranti mengalami kerusakan nyaris bersamaan.
Tiga unit berada di pembangkit Selatpanjang, sementara satu lainnya terletak di Desa Gogok. Mesin-mesin itu mengalami breakdown serius. Ironisnya, salah satunya adalah mesin baru yang belum lama didatangkan, namun harus berhenti beroperasi karena kerusakan pada salah satu sparepart-nya.
“Awalnya hanya satu yang rusak. Tapi selang beberapa waktu, mesin yang lain juga menyusul. Sementara, kami memang tidak memiliki mesin cadangan yang bisa langsung menggantikan operasional,” ungkap Dalie Priasmoro, Kepala PLN ULP Selatpanjang.
Dalie menjelaskan bahwa proses perbaikan membutuhkan waktu, sebab suku cadang yang dibutuhkan harus dipesan dari luar daerah. Dalam kondisi geografis seperti Meranti, waktu tunggu adalah tantangan tersendiri.
Kerusakan ini berdampak langsung pada distribusi daya listrik. Ketika daya yang tersedia tak cukup menampung lonjakan permintaan, terutama pada saat beban puncak seperti Maghrib, maka pemadaman menjadi opsi terakhir yang terpaksa diambil.
Ia juga memahami banyak warga mengeluhkan pemadaman yang sering terjadi saat Maghrib, momen krusial saat umat Islam menjalankan ibadah.
“Banyak masyarakat bertanya, kenapa selalu padam di Maghrib? Itu bukan disengaja. Pada waktu itu konsumsi listrik melonjak tajam, orang menyalakan lampu, TV, AC bersamaan. Beban sistem meningkat drastis, sementara kapasitas kami menurun karena kerusakan ini," jelas Dalie, Senin, (17/6/2025).
"Kondisi seperti ini tidak kita inginkan dan tidak pula disengajakan. Kami sangat memahami keresahan masyarakat dan kami juga sedang bekerja semaksimal mungkin untuk segera menyelesaikan masalah ini, karena memang sifatnya insidental yang terjadi sewaktu-waktu tanpa kita sadari,” kata Dalie penuh empati.
Di tengah situasi ini, Dalie Priasmoro, Kepala PLN ULP Selatpanjang, berbicara dengan nada lugas namun jujur. Pria yang sebelumnya pernah bertugas di PLN Rayon Duri, Kabupaten Bengkalis itu, mengajak publik untuk memahami bahwa pemadaman bukan sekadar “mematikan lampu”, tetapi bagian dari skenario penyelamatan sistem.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka pola pemadaman adalah langkah rasional yakni mengurangi beban agar tidak melebihi kapasitas.
"Ibaratnya kalau daya dipaksakan mengalir di tengah kerusakan seperti ini, ibarat selang bocor dipaksa mengalir deras, akan tambah jebol. Artinya jika dipaksakan akan terjadi gangguan baru," ujar Dalie. "
Dengan 4 unit mesin pembangkit mengalami gangguan, maka daya maksimal tidak bisa disalurkan seperti biasanya. Maka skenario yang kini diterapkan adalah rolling blackout—pemadaman bergilir berdasarkan wilayah dan waktu.
Dalie menjelaskan, pemadaman dilakukan secara bertahap. Bukan asal padam, dan bukan asal nyala. Jika suatu wilayah lebih dulu padam, maka wilayah tersebut juga akan lebih dulu dinyalakan. "Ini pola berjenjang yang harus kami jalankan," terangnya.
Pada tahap awal, pemadaman dilakukan di sebagian besar Kecamatan Tebingtinggi Barat dan Pulau Merbau. Setelahnya, giliran wilayah perkotaan menyusul. Ini bukan soal pilih kasih, tetapi soal teknis dan kemampuan sistem yang harus disesuaikan.
Bagi masyarakat, gelap tentu mengganggu. Ibadah, belajar, berdagang semua tersendat. Tapi Dalie mengingatkan bahwa dalam pemadaman ini, PLN juga tak diuntungkan.
“Kita ini kan menjual daya. Saat pemadaman, pelanggan merugi karena tidak bisa beraktivitas, kami juga rugi karena tak bisa jualan daya,” katanya, jujur.
Pihak PLN, lanjutnya, saat ini tengah berjibaku menyelesaikan persoalan ini secepat mungkin. Tim teknis bekerja siang malam untuk memperbaiki unit-unit yang rusak. Namun keterbatasan suku cadang dan pengiriman yang harus menempuh waktu menjadikan proses tidak semudah membalikkan tangan.
“Kondisi ini memang tidak ideal, dan kami paham masyarakat kecewa. Tapi kami mohon pengertian. Ini bukan disengaja. Semua yang kami lakukan adalah untuk menjaga agar sistem tidak runtuh seluruhnya,” jelasnya.
Di balik pemadaman yang sering disalahpahami, tersimpan dilema untuk menyelamatkan sistem, atau mempertaruhkan kerusakan lebih besar. PLN memilih yang pertama, bukan untuk kepentingan mereka semata, tetapi untuk memastikan bahwa cahaya tetap menyala, meski harus sabar menunggu giliran. (R-01)

