RS Pratama Penyagun Berdiri Megah Namun Masih Sepi, Kepala Dinas Kesehatan Meranti: Tahun Ini Perekrutan Dokter dan Paramedis
Rumah Sakit (RS) Pratama Penyagun, di Desa Penyagun, Kecamatan Rangsang. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Di antara rimbun pepohonan dan semilir angin dari Selat Malaka, sebuah bangunan megah kini berdiri tegak di Desa Penyagun, Kecamatan Rangsang. Rumah Sakit (RS) Pratama Penyagun yang dulunya hanya sebatas impian bagi warga di wilayah terluar Kepulauan Meranti, kini telah menjadi kenyataan. Dalam waktu kurang dari setahun, proyek ambisius ini hampir rampung 100 persen.
Dibiayai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang kesehatan senilai lebih dari Rp 42 miliar, rumah sakit ini menjadi simbol nyata kehadiran negara di daerah 3T: tertinggal, terdepan, dan terluar. Mulai dari gedung poliklinik, instalasi gawat darurat (IGD), ruang rawat inap, hingga fasilitas penunjang lainnya, semuanya telah berdiri gagah dan siap digunakan.
Proyek yang dibangun oleh PT. Sanur Jaya Utama ini sempat menemui tantangan teknis di tengah jalan. Namun, dengan komitmen dan tanggung jawab penuh dari pihak kontraktor, pembangunan akhirnya dapat diselesaikan tanpa hambatan besar. Proses serah terima dari kontraktor kepada Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti melalui Dinas Kesehatan telah dilakukan secara resmi.
Kini, harapan baru itu menggantung pada satu langkah terakhir yakni menghadirkan denyut kehidupan ke dalam bangunan sunyi itu. Perekrutan tenaga medis dalam jumlah besar tengah dipersiapkan. Karena lebih dari sekadar bangunan, rumah sakit ini memerlukan tangan-tangan terampil dan hati-hati penuh empati untuk bisa benar-benar menjadi tempat penyembuhan bagi warga.
Bangunan rumah sakit ini memang berdiri kokoh dan megah. Namun untuk saat ini, ia masih sunyi. Koridor yang rapi, ruangan steril, tempat tidur pasien yang tersusun rap, semuanya menanti satu hal yakni kehidupan. Bukan hanya kehidupan dari pasien, tapi juga dari mereka yang akan mengabdi di dalamnya.
Kepala Dinas Kesehatan Meranti, Muhammad Fahri, memastikan bahwa pihaknya sedang berpacu dengan waktu untuk menyiapkan regulasi dan administrasi agar rumah sakit ini bisa beroperasi dalam tahun ini juga.
“Fasilitasnya sudah lengkap. Sekarang fokus kami adalah SDM dan kelengkapan izin operasional. Kami ingin RS Pratama Penyagun segera aktif dan menjadi rujukan utama bagi masyarakat di Rangsang dan sekitarnya,” ujar Fahri optimis.
Bagi warga setempat, RS Pratama bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah harapan yang selama ini terpendam untuk mendapatkan layanan kesehatan yang layak, tanpa harus menyeberang pulau, menantang ombak dan waktu.
Di ujung utara Kepulauan Meranti, rumah sakit itu berdiri. Menunggu untuk menjadi bagian dari cerita hidup ribuan orang. Sebuah bab baru pelayanan kesehatan pun siap ditulis di tanah perbatasan negeri.
Lebih jauh, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti itu mengakui bahwa tahapan tersulit bukanlah membangun fisik rumah sakit, tetapi menghidupkan denyut operasionalnya. Menjelang perekrutan besar-besaran, saat ini baru lima orang tenaga kebersihan yang direkrut. Sebuah awal yang kecil, namun berarti.
"Untuk operasional, tentu kita menunggu regulasi dari BKD. Rekrutmen dokter dan perawat akan dilakukan secara outsourcing. Kami upayakan tahun ini, dan kami juga sedang mengusulkan formasi melalui program Nusantara Sehat dari Kemenkes," kata Fahri saat dikonfirmasi, Selasa (10/5/2025).
Target awalnya tidak main-main, ada empat orang dokter umum dan 50 tenaga paramedis. Jumlah yang masih jauh dari cukup untuk kapasitas rumah sakit ini, namun cukup untuk mulai. Seiring waktu dan penuh harapan, jumlah tenaga medis itu akan bertambah hingga mencapai ratusan.
Namun, persoalannya tidak hanya berhenti pada jumlah. Biaya operasional pun menjadi tantangan lain yang kini menanti. Dinas Kesehatan memperkirakan, dana sebesar Rp 1 miliar per tahun akan dibutuhkan hanya untuk operasional dan pengadaan obat—belum termasuk gaji pegawai. Anggaran yang tidak kecil untuk sebuah daerah kepulauan yang bergantung pada kekuatan fiskal daerah.
“Sekarang kita sedang melihat kekuatan APBD sambil mempersiapkan rumah sakit ini dikelola melalui sistem Badan Layanan Umum Daerah (BLUD),” lanjut Fahri.
Tantangan berikutnya? Ketersediaan tenaga medis. Di tengah keterbatasan jumlah paramedis di Kabupaten Kepulauan Meranti, pemerintah daerah dihadapkan pada dilema. Menarik tenaga dari Puskesmas bukan solusi mudah karena akan meninggalkan kekosongan lain. Sementara untuk dokter spesialis, solusi jangka pendeknya adalah menjalin kolaborasi dengan RSUD agar dokter spesialis bisa bertugas beberapa hari dalam sepekan di Penyagun.
“Kita belum bisa rekrut maksimal karena jumlah tenaga paramedis di Kepulauan Meranti memang masih kurang. Kalau pun harus memindahkan dari Puskesmas, harus ada aturan main. Kecuali ada pegawai baru, mungkin bisa dibuatkan perjanjian kerja. Begitu juga dengan dokter spesialis, nantinya kita berencana untuk mengarahkan dari RSUD saja dibuat pengajuan agar dalam seminggu bisa bertugas di sana,” tukasnya.
Meski tantangan itu nyata, harapan tak pernah surut. RS Pratama Penyagun adalah jawaban dari doa masyarakat di pulau-pulau perbatasan yang selama ini harus menempuh laut dan waktu hanya untuk mendapatkan perawatan. Kini, rumah sakit itu hanya tinggal menunggu detak pertama pelayanannya.
Ia masih sunyi. Tapi sunyi itu akan segera pecah oleh derap langkah perawat, suara pelan dokter yang menenangkan, dan bisikan doa keluarga yang menanti kesembuhan. (R-01)

