Miris, Kondisi Sekolah di Pedalaman Riau Ini Tiga Ruang Kelasnya Hampir Roboh
SMA Negeri 1 Kuala Kampar. Foto : Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Empat jam lamanya menyeberang menggunakan pompong atau perahu mesin, melewati lautan untuk tiba di sebuah pulau bernama Mendol, yang terletak di Kecamatan Kuala Kampar Kabupaten Pelalawan, Riau.
Masyarakat di daerah ini masih bergantung hidupnya dengan laut dan menjadi daerah terluar Pulau Sumatera.
Akses mereka lebih dekat ke Kepulauan Riau dan negeri Jiran Malaysia.
Lebih kurang jaraknya dari ibu kota Provinsi Riau Pekanbaru dengan jarak tempuh enam jam, dua jam menggunakan perjalanan darat dan empat jam menggunakan jalur laut.
Berdiri sebuah sekolah menengah atas (SMA) di daerah ini dan menjadi sekolah satu-satunya bagi anak-anak yang tinggal di pulau ini.
Sekolahnya sudah berdiri sejak tahun 1980-an, sebelumnya sekolah ini ditetapkan sebagai sekolah berstatus Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) di zaman Menteri Pendidikan Anies Baswedan.
Wajar, status ini diberikan karena akses dan letaknya berada di daerah tertinggal dan pulau terluar tanah air, sehingga ada perhatian khusus untuk sekolah ini.
Namun di tengah kondisi kemajuan teknologi dan informasi serta fasilitas bagi anak di daerah perkotaan, sekolah SMA Negeri 1 Kuala Kampar ini ditemukan dalam kondisi memprihatinkan.
Kondisinya sudah hampir roboh, di mana bangunannya sudah berusia sejak tahun 80-an dengan bangunan panggung lantai papan.
Dinding papan, lantai papan karena selama ini daerah tersebut rawan terdampak banjir.
Kondisi ini mengakibatkan terganggunya proses pembelajaran di sekolah tersebut, karena sampai saat ini ruangan yang tersedia masih kekurangan.
Untuk ruangan majelis guru sendiri belum tersedia, hanya ada ruang kepala sekolah dan TU.
Sebenarnya pihak sekolah sudah berulangkali mengajukan revitalisasi bangunan ke Pemerintah Provinsi Riau.
Namun belum juga dikabulkan.
Ditambah situasi defisit anggaran saat ini, menipiskan harapan untuk dilakukan revitalisasi.
Kepala sekolah SMA N 1 Kuala Kampar Nurman saat dikonfirmasi mengatakan, diakuinya kondisi sekolah mereka banyak kekurangan selain kondisi bangunan yang mau roboh.
"Dinding antara kelas ke kelas juga berlobang, kursi meja siswa, kursi meja guru, setiap tahunnya saya beli semuanya kurang, jadi mobilier semuanya kekurangan," ujar Nurman.
Saat ini jumlah siswa yang sekolah di SMA 1 Kuala Kampar hanya 300 siswa dengan jumlah ruang belajar yang bisa digunakan 9 kelas, sedangkan tiga kelas lagi sudah mau roboh.
Sedangkan yang tersedia selain ruang kelas ada Kantor kepala sekolah dan TU, perpustakaan, Labor IPA, dua asrama siswa dan guru.
"Sekolah kami 3 T makanya ada asrama," ujar Kepsek yang baru menjabat lebih kurang dua tahun itu.
Maka selain revitalisasi bangunan yang hampir roboh, pihaknya juga butuh lab komputer, jamban, pagar sekolah, perangkat komputer, kantor majelis guru yang belum ada.
"Kalau kondisi seperti ini sebenarnya sudah tidak layak, kursi dan mejanya hanya bisa dibeli 10 setiap tahun, diperbaiki yang rusak juga sudah tidak bisa," ujarnya.
Karena di daerah tersebut juga kawasan gambut, sehingga bangunan kelas yang sudah dibangun sebelumnya juga banyak mengalami kerusakan, ada yang lantainya ambruk dan tiang yang mengalami keropos.
"Kami berharap bisa diperhatikan lah," ujar Nurman.
Kondisi ini diketahui saat anggota DPRD Riau Dapil Siak Pelalawan Abdullah mengunjungi sekolah tersebut saat masa resesnya, menurutnya sudah sangat tidak layak digunakan untuk proses belajar mengajar.
"Ada SMA mau roboh, lokasinya di pedalaman Riau, dari Buton nyebrang 4 jam dari Pekanbaru ke Buton saja sudah 2 jam, cuma dengan kondisi sekarang ini (defisit), mau ngapain kita," ujar Abdullah.
Namun demikian harus diambil hikmahnya dari situasi saat ini, jika kondisi ini dijadikan sebagai tantangan untuk membangun daerah.
"Kolaborasi pemerintah dan DPRD untuk mencari cara lain mendapatkan PAD, sehingga hal yang wajib, seperti untuk pendidikan ini bisa dibangun," ujar Abdullah.(R-04)

